Umat Islam Hanya Jadi Penonton Dan Pengekor Di Tengah Perseteruan As Vs China

Last Updated: 2 Juli 2020By

Aliansi Pengusaha Muslim – Situasi Laut China Selatan (LCS) hari-hari ini makin memanas militer Amerika Serikat (AS) dan China sama-sama saling bersiaga di kawasan tersebut.

AS bahkan sudah meluncurkan pesawat bomber B-52H dan dua kapal induk Nimitz dan USS Ronald Reagon ke LCS. Sedangkan China menyiagakan senjata anti pesawat terbang seperti rudal DF-21D dan DF-26 kawasan ini.

Tentara Militer China (PLA) mengatakan Negeri Tirai Bambu siap melawan “ancaman” yang ditimbulkan AS. Ini diutarakannya dalam sebuah artikel di Phoenix Television, jaringan televisi milik China.

“Tekad China untuk menjaga integritas teritorial, kedaulatan, dan kepentingan maritimnya tidak akan goyah karena ancaman terbaru yang ditimbulkan oleh AS. Militer China siap dan akan menangani dengan mudah.” (cnbcindonesia.com, 8/7).

AS sendiri bersiaga di LCS dengan alasan menjunjung tinggi kebebasan di perairan tersebut. Sebagaimana diketahui, China mengklaim 80% LCS atau 2.000 km area merupakan bagian negaranya dengan konsep Sembilan Garis Imajiner.

Ketegangan antara AS dan China di kawasan LCS telah meningkat dalam beberapa waktu terakhir membuat ramalan perang kedua negara di LCS makin nyata.

Bahkan beberapa tahun sebelumnya perseturan selalu mengemuka. Dari tudingan kepada Huawei (perusahaan komunikasi dari China) sebagai mata-mata, bahkan penangkapan CFO Huawei di Kanada atas perminataan AS. Juga ada pemblokiran Google, Facebook, dan perusahaan lain di China di tahun 2017, isu kemanusiaan Uighur yang dilempar AS, perang dagang keduanya yang begitu merugikan kedua belah pihak, tuduhan tidak terbukanya China soal Covid-19 hingga seluruh dunia menderita pandemi, dan terbaru selain memanasnya militer di LCS adalah pemblokiran kabel bawah laut China oleh AS.

Demikianlah perseteruan dua negara adidaya saat ini, AS dan China. Dua negara yang berbeda ideologinya. Meskipun China nampak begitu maju ekonominya sejatinya negara ini tetaplah negara sosialis. Sedang AS adalah negara berideologi kapitalisme.

Sebagai sebuah mabda’ (ideologi) negara ini mendorong dirinya terus mempertahankan dan meluaskan pahamnya. China telah “mencaplok” Hong Kong, Tibet, dan Turkistan Timur (Uighur) yang diaku sebagai Provinsi Xinjiang. Minggu lalu bahkan militer China dan India beradu tembakan. Menurut India tentara China tewas 40 orang sedang menurut China mereka berhasil menewaskan tentara India 20 orang.

AS sendiri sebagai negara kapitalisme terus mempropagandakan demokrasi ke berbagai negara. AS bercokol di banyak negara Timur Tengah, di Asia AS dekat dengan Taiwan dan Korea Selatan. AS punya pangkalan militer di Filipina.

Demikianlah sebuah ideologi, dengan thariqah-nya selalu ingin eksis dan ekspansif ke negara lain.

Lalu bagaimana dengan umat Islam? Umat Islam sejak keruntuhan Kekhilafahan Turki Utsmani nyaris tidak ada lagi institusi yang merepresentasikan kekuatan Islam. Terlebih lagi kini umat Islam tidak lagi menjadikan Islam sebagai ideologi, umat Islam benar-benar hanya sebagai penonton bahkan cenderung pengekor. Padahal Islam pernah berjaya dan menghadirkan kebaikan di berbagai penjuru dunia selama 1300 tahun lebih.

Atas persaingan negara-negara adidaya ini umat Islam, misalnya Indonesia, malah bersikap oportunis. Misalnya pada perang dagang AS dan China, Indonesia berharap keluarnya perusahaan AS dkk-nya dari China berpindah ke Indonesia. Tidak ada peran sentral, sifatnya hanya menampung “cipratan”.

Islam adalah satu-satunya agama dan ideologi yang diterima Allah subhanahu wata’ala. Allah berfirman, “Sesungguhnya agama (yang diridhai) disisi Allah hanyalah Islam.” (QS Ali Imran: 19).

Nabi shallallahu’alaihi wassalam bersabda, “Islam itu tinggi dan tidak ada yang mengalahkan ketinggiannya.” (HR Daruquthni).

Apakah kapitalisme maupun sosialisme dua-duanya adalah ideologi yang tidak diridhoi Allah subhanahu wata’ala. Bahkan akibat sepak terjang keduanya telah nyata menghadirkan kerugian bagi umat manusia.

Sudah saatnya umat Islam menjadikan Islam sebagai ideologi. Terlebih lagi hadirnya Islam akan menjadi rahmat bagi seluruh alam. [] Pujo Nugroho