Ulasan Utama

UMAR BIN KHATHTHAB MEMBERI SANTUNAN SEMBAKO

Oleh Pujo Nugroho

Assalim.id – Suatu hari Umar ibn Al-Khaththab keluar rumah pada tengah malam. Hal tersebut dilihat oleh Thalhah. Umar masuk ke sebuah rumah, lalu ke rumah lainnya. Ketika pagi menjelang, Thalhah mendatangi salah satu rumah itu dan mendapati pemiliknya adalah seorang perempuan tua yang buta dan lumpuh.

“Apa urusan laki-laki tadi malam datang ke rumahmu?” tanya Thalhah. Perempuan tersebut mengatakan pada Thalhah bahwa laki-laki itu rutin mengunjunginya sejak lama. Di memberikan sesuatu yang dapat meringankan penderitaannya dan membersihkan kotorannya.

Mendengar perkataan sang nenek Thalhah berkata pada dirinya sendiri, “Celakalah engkau Thalhah, Umar tidak bisa ditiru.”

Kisah lain juga diriwayatkan oleh Ibnu Umar yang bercerita bahwa suatu ketika serombongan pedagang datang. Umar berkata kepada Abdurrahman ibn Auf, “Apakah engkau bersedia menjaga mereka dari pencurian bersama denganku?” Abdurrahman menyanggupinya lalu mereka berdua berjaga-jaga. Tiba-tiba Umar mendengar tangisan bayi. Umar menghampiri sumber suara tersebut dan berkata kepada ibu sang bayi, “Bertakwalah kepada Allah dan berbuat baiklah kepada bayimu.”

Lalu umar kembali ke tempatnya. Namun, si bayi kembali menangis dan Umar kembali menghampiri sang ibu sambil mengucapkan kalimat yang sama. Ketika mendengar tangisan bayi itu lagi pada akhir malam, dia berkata kepada sang ibu, “Aku melihat dirimu adalah seorang ibu yang buruk. Aku tidak melihat anakmu tenang semalaman.”

“Wahai hamba Allah (mengindikasikan ketidaktahuannya bahwa lawan bicaranya adalah Umar). Hal tersebut juga membuatku khawatir. Aku ingin menyapihnya, tetapi sepertinya dia menolak untuk disapih,” jawab sang ibu.

“Lalu mengapa engkau teruskan?” tanya Umar

Sang ibu menjawab, “Karena Umar tidak akan memberikan bantuan, kecuali bagi anak yang sudah disapih.”

“Berapa umurnya?” tanya Umar.

Sang ibu bayi menjawab usia bayinya baru beberapa bulan.

“Janganlah engkau terburu-buru menyapihnya,” kata Umar.

Kemudian dia shalat dan para jamaah tidak bisa mendengar jelas bacaannya karena suara tangisan bayi itu begitu hebat. Setelah mengucapkan salam dia berkata, “Betapa buruknya Umar. Berapa banyak anak Muslim yang meninggal dunia!”

Lalu dia memerintahkan agar bayi-bayi tidak terburu-buru disapih karena akan diberikan bantuan kepada semua bayi yang lahir dalam keadaan Islam. Permintaannya itu ditulis dan disebarkan ke penjuru negeri bahwa setiap bayi akan mendapatkan bantuan.

Demikianlah perilaku Umar r.a. sebagai amirul mu’minin. Bahkan dia menganggap dirinya buruk jika masih ada rakyatnya yang tidak bisa makan.


Bahan makanan pokok adalah kebutuhan dasar manusia. Seorang pemimipin yang benar tidak akan membiarkan kebutuhan makanan ini sulit dipenuhi rakyatnya. Terlebih lagi memberikan beban pajak pada bahan makanan pokok.[]