Ulasan Utama

Siklus Peradaban Dan Masa Depan Sistem Islam

Oleh : Agan Salim.

Siklus peradaban terus berputar layaknya roda pedati yang terus bergerak pelan tapi pasti. Begitu pula halnya dengan abad kapitalisme saat ini. Ada dua peristiwa besar yang sering dianggap oleh para pemikir kapitalisme sebagai bukti kegagalan sosialisme. Pertama, runtuhnya Uni Soviet dimana Gorbachev membuka pintu negaranya untuk pasar bebas dan kedua, runtuhnya Tembok Berlin yang sempat memisahkan Jerman Barat dan Jerman Timur.

Dari kedua peristiwa itu tesis “Akhir Sejarah Sosialisme” dikemukakan oleh Francis Fukuyama, dalam bukunya yang berjudul The End of History and the Last Man, ia menyatakan kemenangan definitif pasar bebas dan demokrasi adalah sebuah keniscayaan. Oleh karenanya kapitalisme adalah peradaban final dari umat manusia yang tidak dapat digantikan dengan sistem apapun.

Euforia tentang kapitalisme sebagai bentuk akhir sistem ekonomi dan demokrasi mereka sandarkan pada pertumbuhan ekonomi dan melonjaknya pasar dunia. Dan ditutup dengan klaim Wall Street dan turunannya bahwa mereka telah berhasil menjinakkan siklus “boom-and-slump” ekonomi yang sejatinya adalah cacat bawaan sistem ekonomi kapitalisme.

Tapi saat ini roda sejarah telah berubah menuju realitas yang sebenarnya. Hari ini, keyakinan itu runtuh menuju ke dasar jurang peradaban. Semua prediksi dan euforia dalam strategi kapital, berbalik menjadi krisis, resesi, depresi dan ketimpangan yang tak berkesudahan disemua segment sistem kehidupan abad ini.

Sikap dan prediksi keruntuhan sistem kapitalisme kian nyaring terdengar, John Mohawk, pakar sejarah Amerika di The State University of New York mengatakan: “The way of life known as Western Civilization is on a death path.” (Cara hidup yang dikenal sebagai Peradaban Barat berada di jalan kematian). Hal yang sama juga diungkap oleh Hurry Shutt, dalam bukunya, A New Democrazy: Alernatives to a Bankrupt World Order, disalah satu bab menulis “Capitalist Crisis and Threat to US Hegemony”.

Hurry Shutt mengungkapkan berbagai krisis yang kini menimpa dunia pasca Perang Dingin berakhir. Krisis ekonomi, runtuhnya kekuasaan sipil di berbagai negara, meningkatnya angka pengangguran, dan kemiskinan, telah menjungkirkan optimisme yang sempat merebak beberapa tahun pada awal dekade 1990-an.

Kapitalisme global yang hanya mempromosikan nilai-nilai individualisme, materialisme, konsumerisme, dan hedonisme. Akhirnya berujung kepada ketidakadilan (kezaliman), kemiskinan, ketimpangan, kesenjangan yang menjadi bagian yang tak terpisahkan.

Kerisauan dan kegetiran terhadap peradabah manusia dan negara yang mengadobsi sistem/ideologi kapitalisme bukanlah hal baru yang dirasakan oleh para elite global. Secara tersirat dalam peringatan Hari PBB 24 Oktober 1999 pernah diprediksi bahwa abad ke-21 sebagai abad terkejam sepanjang sejarah manusia. Tiga dari total enam miliar penduduk dunia masih dililit kemiskinan, sebagai ”residu dari ketidakadilan global”. Maka muncul berbagai bencana kemanusiaan dan bencana alam.

Dari paradigma ekonomi, sistem kapitalisme selalu terobsesi dengan mengejar pertumbuhan ekonomi tanpa mengindahkan aspek yang lebih esensi seperti sandang pangan, tempat tinggal, kesehatan, pendidikan, kesehatan dan lingkungan untuk menjamin keberlangsungan kehidupan generasi setelahnya. Bagi mereka dunia bak sebuah tempat untuk menguras sumber daya semaunya secara berlebihan dan konsumerisme yang tak pernah terpuaskan. Dunia mereka dorong dengan “kerakusan”, bukan “keperluan”.

Untuk itu diperlukan sebuah perubahan yang mendasar dalam pengertian yang totalitas (kaffah). Keberlangsungan seluruh peradaban kedepan sepenuhnya tergantung apakah kita mampu mengadakan perubahan tersebut atau tidak. Dan yang lebih mendasar kita memerlukan sebuah paradigma baru, visi baru tentang realitas kehidupan, manusia dan alam semesta.

Setelah sosialisme gagal dan diikuti dengan kapitalisme yang sudah kian sekarat kerena kesalahan mendasar tentang paradigma kehidupan. Maka sudah waktunya dunia mengarahkan pada kekuatan sistem Islam sebagai pengerak perubahan. Tidak bisa dipungkiri bahwa saat ini telah terjadi kebangkitan intelektual dan politik di dunia Islam. Bahkan para peneliti barat pun berkesimpulan bahwa bangkitnya Islam adalah kenyataan yang tidak bisa dipungkiri dan dinafikan. Islam sebagai ideologi dan sistem hidup dianggap layak menjadi solusi akan problem peradaban yang kian kronis kondisinya.

Fakta yang takterbantahkan bahwa Islam layak menggantikan peradaban dunia abad ini karena Islam merupakan ideologi universal yang mampu menyatukan manusia dari berbagai ras, warna kulit, bahasa dan suku sehingga layak diterapkan dan menjadi sistem kehidupan. Dari sisi populasi penduduk muslim, sangat besar dan tersebar di empat wilayah benua dan sebagian besar menempati wilayah yang strategis yang menjadi kunci pengendalian dunia.

Dari sisi ekonomi dan kekuatan militerpun demikian, karena di support besarnya populasi kaum muslimin yang tersebar di seluruh benua, kekuatan kendali terhadap benua, kekuatan ekonomi dan militer merupakan realitas modal sosial, ekonomi, dan politik untuk menjadikan Islam dengan perangkat syariah yang rigid dan shohih sebagai sistem ideologi global terkemuka untuk mengatur peradaban dunia saat ini menjadi lebih berkeadilan, kuat, stabil dan beradab. []