Ulasan Utama

PEMILU ALA-DEMOKRASI, DIKIRA OBAT PADAHAL RACUN OLIGARKI

Agan Salim

Rakyat dan mahasiswa sepertinya mulai jenggah dengan kondisi bangsa yang sepertinya makin jauh dari tujuan mulianya, yaitu mensejahterakan rakyatnya. Ini bisa dirasakan dengan semakin masifnya perlawanan dan protes akan realitas sosial, politik, ekonomi dan hukum yang makin tidak menentu arah dan tujuannya. Fakta ini terindera dari aksi demo besar-besaran yang diselenggarakan oleh BEM seluruh Indonesia terjadi di berbagai kota. Di Jakarta sendiri, aksi dilakukan di Gedung DPR/MPR RI. Ribuan mahasiswa mengepung rumah rakyat tersebut pada 11 april 2022.

Di antara tuntutan mahasiswa, agar DPR RI mau mendengar aspirasi rakyat. Mereka juga menolak wacana perpanjangan masa jabatan atau presiden 3 periode. Presiden sendiri, pada Ahad 10 April 2022 telah mengeluarkan pernyataan bahwa Pemilu 2024 digelar pada tanggal 14 Februari 2024.

Seperti tuntutan-tuntutan pada era-era kekuasaan sebelumnya, solusi yang disuarakan hanya berputar-putar pada problem teknis sistem, kebijakan dan tabiat pemimpin semata sehingga solusinyapun hanya pemilu dengan harapan ada pemimpin baru yang bisa merubah kondisi menjadi lebih baik. Padahal ada masalah mendasar yang melatarbelakangi itu semua sehingga harapan tersebut sulit diwujudkan.

Pemilu atau suksesi yang digadang-gadang seolah-olah menjadi solusi tunggal, tapi faktanya selama ini hanya berbuah masalah. Selain mahalnya anggaran penyelenggaraannya yang begitu besar, pemilu 2024 misalnya yang anggarannya mencapai Rp 110,4 triliun dengan rincian KPU Rp 76,6 triliun dan Bawaslu Rp 33,8 triliun. Ini hanya anggaran untuk KPU saja, ini belum termasuk anggaran yang harus dikeluarkan oleh para kandidat dan partai politik.

Mahalnya biaya yang harus dikeluarkan dalam sistem demokrasi untuk sekedar memilih presiden (pilpres), pemilu legislatif (pileg), dan pemilihan kepala daerah (pilkada) faktanya telah menjadi “bumerang” bahkan melahirkan praktik-praktik korup yang dilakukan para politisi atau pejabat yang terpilih.

Keterpilihan yang dihasilkanpun faktanya tidak ditentukan oleh kualitas dan kapabilitas, tapi ‘isi tas’ atau besaran dana politik yang bersumber dari kantong pribadi atau dari para sponsor yang tidak lain adalah para oligarki. Karena merekalah sejatinya pemilik modal yang mampu menjalankan mesin politik demokrasi yang sangat rakus dan pragmatis.

Sehingga tidak mengherankan ketika para politisi atau pejabat terpilih, maka yang terpikir pertama kali bukanlah bagaimana menjalankan fungsi pelayanan negara kepada rakyatnya, tapi bagaimana mengembalikan biaya politik yang telah dikeluarkan agar “balik modal” bahkan untung berkali-kali lipat bak bisnis kapitalis pada umumnya.

Semua realitas diatas tidaklah terjadi dengan tiba-tiba, demokrasi hakekatnya adalah anak kandung dari sistem sekuler kapitalisme global, inilah awal dari semua kerusakan di atas. Negeri yang mengklaim pancasilais ini sebenarnya telah mengadobsi sebuah paradigma yang berprinsip “laissez faire-laissez passer” atau kurang lebih yang berarti “serahkan segala kegiatan ekonomi kepada pasar” aliran liberalisme ekonomi ini diperkenalkan oleh penggagasnya Adam Smith.

Di dalam buku Richard Robinson yang berjudul “Indonesia; The Rise of Capital” (2009) disebutkan bahwa revolusi kapitalis pada era Pasca-Kolonial Indonesia menjadi kekuatan dominasi sosial dan ekonomi ada sejak awal tahun 1970-an pelan tapi pasti kapitalis di negeri ini kian menguat secara dominan dan prominent. Bahkan pasca Reformasi pengaruhnya kita kuat, dan saat ini semakin liberal dan radikal.

Dari runutan peristiwa inilah, kita bisa mengambil kesimpulan bahwa pemilu ala demokrasi yang disuarakan pada akhirnya bukanlah “obat” untuk menyudahi kesengsaraan dan keterjajahan disemua sendi kehidupan berbangsa saat ini, tapi adalah “racun” oligarki yang kian ganas dan mematikan sendi-sendi kehidupan bangsa ini.

Sudah saatnya kondisi bangsa yang semakin rusak ini menyadarkan bangsa yang besar dengan mayoritasnya adalah umatnya Rasullulah SAW ini, bahwa tak ada harapan bergantung kepada sistem demokrasi rusak yang tak lain adalah produk pemikiran manusia yang hakikatnya adalah mahluk yang lemah dan terbatas pengetahuan akan manusia, alam semesta dan kehidupan.

Cukuplah di bulan Ramadhan yang penuh berkah ini apa yang Allah SWT wajibkan kepada kita semua sebagai ciptaannya lewat lisan Rasulullah SAW :

“Dan sekiranya penduduk negeri beriman dan bertakwa, pasti Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi ternyata mereka mendustakan (ayat-ayat Kami), maka Kami siksa mereka sesuai dengan apa yang telah mereka kerjakan. (Q.S. Al-A’raf : 96)

Wallahu a’lam bish-shawwabi

Related posts
Ulasan Utama

KARENA INVESTASI, RATUSAN PULAU DI MALUKU DILELANG

Ulasan Utama Assalim.idOleh: Pujo Nugroho Assalim.id – Sekitar ratusan gugusan pulau di…
Read more
Ulasan Utama

DAHSYAT, REVISI UU IKN DEMI HAK PENGELOLA LAHAN INVESTOR SAMPAI 180 TAHUN

Fokus Utama Assalim.idOleh: Pujo Nugroho Assalim.id – Pemerintah mengajukan revisi…
Read more
Fokus EkonomiInspirasi Pengusaha & Komunitas

SISTEM EKONOMI ISLAM, "SURGANYA" ENTREPRENEUR MUSLIM

Oleh : Yuliansyah ST.ME.CFPPengurus Pusat Aliansi Pengusaha Muslim (ASSALIM)Saat ini semua…
Read more