Ulasan Utama

PANDEMI DATANG, RAKYAT MAKIN SENGSARA, EEE…KAPITALIS CARI UNTUNG

Oleh: M AZZAM AL FATIH

Abad 21 bakal menjadi sejarah yang tidak terlupakan di tahun yang akan datang. Masa pandemi virus Covid-19 telah mengubah keadaan dan tatanan kehidupan dari masalah kecil hingga besar yang menimpa seluruh negara. Keberadaannya tidak hanya menginfeksi jutaan orang. Tetapi juga telah menghantam lini kehidupan terutama dalam bidang ekonomi dan sosial.

Sistem kapitalisme yang mendominasi tatanan kehidupan pun turut terpukul. Sebab, sistem ini hanya mengandalkan pajak dan utang dalam menjalankan roda pemerintahan. Sedangkan para kaum kapitalis, selaku peran terpenting dalam menghasilan pajak keadaan sekarat. Mereka adalah pelaku usaha baik jasa maupun barang.

Tidak bisa dipungkiri bahwa para pengusaha baik besar maupun kecil adalah yang paling terkena dampaknya. Banyak pabrik yang terhenti operasional, jasa penerbangan korlap, pariwisata, dan Mall pun tidak luput terkena dampaknya. Oleh karena itu para kaum kapitalis, mau tidak mau terus berusaha agar dapat bertahan di tengah badai virus. Mereka tidak menghiraukan kaum bawah yang lebih sengsara daripada mereka. Hilangnya mata pencaharian, ekonomi sulit, ditambah abainya negara dalam meri’ayah rakyat.

Dalam kesulitan demikian kaum kapitalis mencari keuntungan demi memulihkan kondisi agar tetap bertahan dan eksis dalam menguasai dunia. Mereka tega melakukan bisnis, meskipun hal itu dibutuhkan rakyat. Semisal tabung gas yang belakangan sulit untuk dicari dan sangat dibutuhkan masyarakat. Sebagaimana diberitakan Oleh DetikFinance.Com tanggal 13 Juli 2021. Yang kemudian tabung gas tersebut akhirnya menjadi mahal hingga jutaan.

Vaksin yang dicanangkan negara dalam menekan penyebaran Covid-19, juga dijadikan ladang bisnis. Pernah terjadi suatu kebijakan yang diambil Negara, walaupun kemudian dibatalkan karena dikritik dari semua kalangan. Yakni vaksin berbayar yang rencananya bakal dijual melalui Kimia Farma, sebuah perusahaan plat merah bidang kesehatan. Sebagaimana diberitakan oleh CNBC.Indonesia 17 Juli 2021.

Kemudian ada tes PCR yang dijadikan sebagai income. Harganya pun cukup tinggi hingga Rp900 ribu. Sangat mahal jika dibanding India yang hanya Rp28 ribu hingga Rp150 ribu, seperti dikutip detik.com tanggal 13 Agustus 2021.

Rakyat pun ‘dipaksa’ untuk membayar mahal harga PCR tersebut, ketika tes PCR dijadikan syarat bepergian baik dalam negeri maupun luar negeri. Apakah ini murni kebijakan untuk mengatasi pandemi, atau justru muncul karena lobi-lobi. Mengingat lumrahnya di alam kapitalisme, penguasa dan penguasa berkongkalingkong saling mengeruk keuntungan. Allahu a’lam.

Demikianlah, kaum kapitalis selalu mencari celah untuk mengambil keuntungan, tak peduli dari pandemi yang mencekam dan mengancam jiwa. Sadis dan tak punya hati.

Nyawa manusia sama sekali tidak ada harganya, yang terpenting bagi mereka hanyalah bagaimana menghasilkan keuntungan. Menumpuk kekayaan demi menuruti hawa nafsunya.

Dan hal ini akan terus terjadi di dunia, selama selama sistem kapitalisme dijadikan tata kehidupan. Maka sistem ini tidak sesuai Fitroh dan tidak layak untuk dijadikan sistem kehidupan.

Hanya Islam lah yang layak dan sesuai Fitroh manusia.  Sistem ini akan mengutamakan keselamatan manusia baik di dunia maupun akhirat. Bukan semata-mata materi seperti kapitalisme dan sosialisme. Sebab dalam sistem Islam hanya menerapkan aturan yang datang dari Sang Kholiq, Allah SWT. Serta setiap perbuatan yang dilakukan akan dimintai pertanggungjawaban oleh Allah SWT. Wallahua’lam bishowwab.

Related posts
Editorial

TIDAK CUKUP MENGGANTI DENGAN ISTILAH MALING UNTUK MEMBASMI KORUPTOR TAPI JUGA HARUS MENGGANTI SISTEM!

Editorial Assalim.id | Edisi 74Oleh Pujo Nugroho Assalim.id – Tulisan ini mengapresiasi…
Read more
Fokus Ekonomi

PAJAK DALAM PANDANGAN ISLAM

Fokus Ekonomi Assalim.id | Edisi 73Oleh: M Azzam Al Fatih Asaalim.id – Pajak seolah menjadi…
Read more
Fokus Ekonomi

UTANG MEROKET, KESEJAHTERAAN TAK TERWUJUD, SAMPAI KAPAN?

Oleh : M Azzam Al Fatih Ekonomi merupakan hal penting dalam sebuah negara maupun organisasi.
Read more