Ulasan Utama

Luhut Lagi Luhut Lagi (4L)

aliansi pengusaha muslim luhut lagi luhut lagi 4l

Oleh : Agan Salim

“Hilangnya dunia, lebih ringan bagi Allah dibanding terbunuhnya seorang mukmin tanpa hak.” (HR. Nasai,Tirmidzi)

Kemarin, kembali “Megalomentri” yang satu ini mengeluarkan statement yang sangat tidak layak disampaikan seorang pejabat publik. Lihat saja saat ia menyebut jumlah yang terinfeksi positif 4.000-an lebih, katakan kali sepuluh, hasilnya 50.000 kasus. Angka-angka itu, menurutnya masih lebih baik dibandingkan kondisi kasus COVID-19 di Amerika Serikat, yang jumlah penduduknya 330 juta jiwa. (15/04/20)

Dan sikap ini langsung di tanggapi Mantan Ketua MPR-RI Amien Rais. dalam Twiternya beliau menulis  “Sdr2ku sebangsa dan se tanah air. Pernyataan spt ini tdk pantas dan tdk manusiawi diucapkan olh seorang pejabat negara. Apakah di bawah 500 dari 270 juta nyawa rakyat itu cuma dilihat dari rasio angka-angka? Begitu murahnya harga nyawa rakyat? Nauzubillah,” (15/04/2020)

Dan konyolnya, fakta yang jadi pembanding adalah Amerika yang memang abai dari awal saat wabah ini mendera. Kalau mau gentle dan berani coba dikomparasi dengan Malaysia misalnya 15 April 2020 jumlah kasusnya  5.072 yang postifi dengan 2.342 yang masih dirawat, 2.647 sembuh, jumlah yang meninggal 83 Orang.

Coba banding dengan negeri ini dengan tanggal yang sama dengan yang positif 5.136 dengan 4.221 yang masih dirawat, 466 sembuh, jumlah yang meninggal 469 orang (covid19.co.id). Bahkan dalam kasus Fatality Rate Indonesia diatas 9%, diantara yang terburuk didunia.

Tindakan seperti hal tersebut, dikhawatirkan masyarakat akan menilai bahwa rezim cuci tangan.  Angka-angka korban yang meninggal hanya dilihat dari sudut pandang statistik, dan semua tahu arahnya adalah perhitungan untung rugi dalam pertimbangan ekonomi. Semua bukti kesemrawutan dalam pengelolaan di negeri ini bak gunung es.

Tidak presidennya yang bagi-bagi sembako dengan gaya sekelas RT, menterinya yang terus blunder dalam mengambil kebijakan, staf khususnya yang aji mumpung, serta wakil rakyatnya yang sibuk ngurusin DP mobil dinas mewah, dan malah membahas RUU Omnibuslaw ditengan PHK massal saat ini.

Tidak berjalannya periayahan (pengurusan) urusan rakyat secara penuh, membuktikan bahwa pemimpin saat ini tidak menjadikan kebutuhan dan keselamatan rakyat sebagai prioritaskan utama. Padahal, tugas pemimpin itu mengurus urusan umat. Apalagi di saat wabah melanda, harusnya mereka siap 24 jam melayani problematika rakyatnya.

Kalau kita melihat sejarah, pemimpin yang seperti ini hanya ada di era kapitalistik. Mereka dididik dengan pendidikan ala kapitalis. Semua dinilai berdasarkan materi, untung dan rugi.

Akhirnya ketika berkuasa malah lebih terlihat bermental pengusaha daripada penguasa/pemimpin. Ini semua bisa kita pahami bahwa sejatinya mereka adalah produk pemimpin disistem rusak kapitalsime.

Realitas ini sungguh sangat berbeda dengan pemimpin dalam pandangan Islam, yang keimananan dijadikan landaskan dalam segala kebijakannya. Ia lebih takut dimintai pertanggungjawaban oleh Allah SWT daripada sekadar mendapat untung dunia.

Sebagaimana kisahnya Umar Bin Khaththab, yang lebih mementingkan kondisi rakyat dari pada keuntungan dirinya. Lihat saja sikapnya dalam hal ekonomi, khususnya pemenuhan kebutuhan rakyatnya di saat musim paceklik, dingin dan bencana dihadapi penduduk arab saat itu, Umar selalu memperhatikan kebutuhan rakyatnya.

Bahkan Beliau memutuskan tidak akan makan sebelum seluruh rakyatnya makan, tidak mau makan daging di saat rakyatnya hanya makan roti kering.  Umat r.a. memilih memakan makanan yang sama dengan yang dimakan rakyatnya. Agar ia merasakan apa yang dirasakan rakyatnya.

Inilah salah satu contoh pemimpin sejati. Pemimpin yang selalu mendahulukan kepentingan rakyatnya. Bukan hanya sekadar pamer janji dan citra diri. Pemimpin sejati dalam Islam hanya akan memenuhi tanggung jawabnya berlandaskan iman kepada Rabbnya.

Dan pemimpin seperti ini hanya bisa lahir dari pada sistem yang benar. Yaitu sistem Islam, sistem yang datang dari zat yang Maha Benar baik secara fakta historis, kekinian, dan Imani sangat kita perlukan kehadirannya saat ini untuk mengurai problematikan umat abad ini.