Ulasan Utama

BRIN, JALAN RUSAKNYA IKLIM ILMIAH DAN SARAT KEPENTINGAN POLITISI OLIGARKI ?

Oleh: Agan Salim

Assalim.id – Pada tanggal 28 April 2021, Megawati Soekarnoputri didapuk menjadi Ketua Dewan Pengarah Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). Presiden Jokowi pun telah meneken Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 33 Tahun 2021 tentang Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). Dalam peraturan tersebut dijelaskan BRIN terdiri dari dewan pengarah dan pelaksana.

Sontak saja pengangkatan Megawati itu menimbulkan kontroversi di tengah masyarakat. Pasalnya, Mega berlatar belakang politisi dinilai tidak cocok dengan posisi tersebut.

Apalagi alasannya cukup aneh, di mana Dewan Pengarah nanti berfungsi untuk memantau BRIN bekerja sesuai Pancasila dan memastikan riset sejalan dengan ideologi Pancasila.

Posisi Megawati dalam lembaga ini dikritik oleh para ilmuwan. Komisioner Kaukus Indonesia untuk Kebebasan Akademik (KIKA) Abdil Mughis Mudhoffir mengatakan bahwa penempatan politikus menjadi Ketua Dewan Pengarah di BRIN akan membuat lembaga riset terpolitisasi. Risikonya, kata dia, rentan terjadi praktik perebutan rente atas sumber-sumber dana penelitian.

Peneliti dari Pusat Penelitian Politik Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (P2P LIPI) Fathimah Fildzah Izzati memiliki kekhawatiran serupa, bahwa jika Megawati “atau politikus yang lain” terlibat dalam BRIN, ke depan riset hanya akan dijadikan kepentingan politik mereka yang berkuasa saat ini (politik oligarki) dengan dalih kepentingan nasional. Sehingga dikhawatirkan riset hanya akan dijadikan sebagai justifikasi saja, sebagai alat kepentingan politik dan akumulasi kapital.

Bila kondisi tersebut terjadi, maka inilah mimpi buruk para peneliti. Para peneliti atau periset dimanapun harus punya otonomi saintifik, dia tidak boleh diintervensi. Tapi dengan BRIN, para peneliti diduga akan kesulitan melakukan riset sosial dan riset alternatif lain diluar kepentingan politikus dan oligarki.

Selain masalah fungsi pengawasan tersebut, kentalnya nuansa ekonomi dan tujuan kapitalisasi aset SDA negeri inipun terlihat jelas dari paparan Laksama Tri Handoko sebagai kepada BRIN yang baru ditunjuk. Dalam paparannya menyatakan bahwa BRIN akan berupaya untuk dapat memberikan dampak ekonomi dari berbagai aktivitas riset dan inovasi yang dilakukan.

Dampak tersebut nantinya diharapkan dapat memicu investasi baru yang masuk ke sektor ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek) baik dari dalam maupun luar negeri. “Kami tentu akan bekerja sangat erat dengan Kemendikbudristek dan Kementerian Investasi karena kami juga ditargetkan untuk mampu mendapatkan investasi terkait sektor iptek, khususnya yang berbasis biodiversitas dan sumber daya alam yang memiliki potensi tapi selama ini belum tereksplorasi,” kata dia usai pengangkatan. (Tirto, 3/05/2021).

Padahal kita pahami, bahwa salah satu tujuan bangsa yang besar dan mandiri adalah tidak bergantung pada negara lain. Mandiri dalam memenuhi kebutuhan dasar (sandang, pangan, papan). Dan hal ini sangat berkaitan erat dengan teknologi yang didefinisikan sebagai usaha untuk memenuhi kebutuhan hidup manusia dengan cara terbaik.

Kemandirian teknologi akan menentukan kemandirian bangsa. Bayangkan sebuah negara yang tidak bisa membuat teknologi sendiri, atau masih bergantung pada import terhadap bahan-bahan baku vital dari negara lain. Sementara arah riset teknologi diarahkan hanya sebatas untuk kepentingan politisi dan oligarki dengan capaian kapitalisasi modal, bukan kesejahteraan sosial. Tentu sangat berbahaya bagi masa depan bangsa tersebut.

Sehingga teknologi sangat berkaitan erat dengan sistem politik sebuah negara, dan tanpa political will dari pemerintah, mimpi kemandirian teknologi tidak akan pernah terwujud seperti saat ini di negeri tercinta kita.

Sehingga dalam melihat teknologi, teramat penting menempatkan misi teknologi sebuah bangsa, dan menarik apa yang pernah diungkapkan oleh Prof. Fahmi Amhar bahwa teknologi sebenarnya merupakan produk pemikiran. Pada saat pemikiran kolektif suatu bangsa masih maju, maka akan muncul para ilmuwan dan teknolog. Mereka berinovasi dan Inovasi ini akan berkelanjutan bila ekonomi berfungsi dan tumbuh.

Dan Islam mengajarkan kejelasan misi di dunia, mereka hidup dengan bersemangat menjadi yang terbaik. Karena hanya yang terbaiklah yang mampu menggiring yang makruf dan mencegah yang mungkar. Sehingga muncullah budaya mencari ilmu, bekerja keras, dan keinginan kuat untuk mandiri, tak terkecuali kemandirian teknologi sebagai wujud dari misi menjadi umat terbaik. [AS]

Related posts
Ulasan Utama

“PAJAK ATAU PALAK” SIAPA UNTUNG SIAPA BUNTUNG ?

Agan Salim Sebagai negara yang mengadopsi sistem kapitalisme, maka “platform” pajak sebagai…
Read more
Editorial

TIDAK CUKUP KECEWA PADA PEJABAT DAN POLITISI KAYA RAYA DI TENGAH PANDEMI, TAPI KECEWALAH JUGA KEPADA DEMOKRASI

Editorial Assalim.id | Edisi 75Oleh Pujo Nugroho Assalim.id – Setelah Komisi Pemberantasan…
Read more
Bengkel Pengusaha

KETIKA PENGUSAHA MENJADI PENGUASA, BELAJAR DARI UMAR BIN KHATTAB

Karena tak juga ada tanda-tanda serius untuk bertobat di negeri +62 ini, akhirnya muncul special…
Read more