Ulasan Utama

Bencana Bertubi-Tubi, Negara Abai, Islam Solusinya !

Hari Abu Muthiah
Assalim.id I Ulasan Utama

Indonesia memang memilki potensi sumber daya alam tapi juga memiliki  potensi besar terjadinya bencana alam diberbagai wilayah.  Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat selama 20 tahun terakhir ada sekitar 1.000 kejadian bencana.

Bahkan sepanjang Januari 2021 terjadi sebanyak 221 bencana (iNews.Id, 28/1/2021). Terbesar banjir di Sumedang, Manado, dan Bogor. Gempa 6,2 scala richter di Sulawesi Barat. Korban berjatuhan. Sarana dan prasarana hancur. Tidak sedikit kerugian materi yang dialami oleh masyarakat yang terdampak bencana.

Dilansir Bisnis.com (27/1/2021) Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat total kerugian akibat bencana di Sulawesi Barat  per 26 Januari 2021 mencapai Rp829,1 miliar. Sedangkan kerugian akibat banjir di Kalimantan Selatan Rp1,349 triliun,  Aceh Rp11,6 (kompas,25/1/2021).

Anehnya bencana marak terjadi. Dampaknya besar, tapi  negara tidak maksimal mengalokasikan anggaran. Tahun 2017 hingga 2020, anggaran BNPB terus berkurang, yaitu Rp 1,084 triliun pada 2017, Rp 748 triliun (turun 30 persen) pada 2018, Rp 614 miliar (turun 17,9 persen) pada 2019,  Rp 450 miliar pada 2020, Rp 465 miliar pada 2021 (tempo.co.id, 23/1/2021).

Bandingkan dengan anggaran buzzer yang tidak jelas peruntukannya.  Lembaga Penelitian, Pendidikan dan Penerangan Ekonomi dan Sosial (LP3ES) menemukan dana promo media sosial yang dikucurkan pemerintah sebesar Rp 1,1 triliun sejak 2014 hingga 2020. Dikelola oleh Kepolisian Rp 937 miliar. Sedangkan untuk jasa influencer mencapai Rp 90,45 miliar (rmoljatim,22/8/2020),

Sudahlah anggaran berkurang, distribusi logistik di wilayah pengungsi juga menimbulkan masalah. Di Mamuju misalnya, pengungsi yang akan mengambil bantuan diposko-posko pemerintah wajib memperlihatkan Kartu Keluarga. Hal ini dialami Firman, warga Jalan Baharuddin Lopa,  Mamuju, Sulawesi Barat yang rumahnya rusak berat akibat gempa.

“Saya datang di salah satu posko bantuan yakni di Posko Pendopo. Saya minta bantuan tapi disuruh sediakan kartu keluarga. Bahkan harus rela mengantri berjam-jam demi mendapatkan bantuan,” kata Firman kepada Terkini.id — jaringan Suara.com (19/1/2021).

Belum lagi anggaran bencana ratusan miliar yang salah sasaran di NTB akibat data pengungsi yang tidak valid. Seharunya pengungsi mendapt Rp 10 juta tapi dilaporkan Rp 50 juta. BPKP menemukan bantuan yang salah sasaran itu ditemukan merata di Mataram, Lombok Barat, Lombok Tengah, Lombok Utara, Lombok Timur, Sumbawa dan Sumbawa Barat (lombok post, 19/4/2019).

Minimnya anggaran, data tidak valid, anggaran salah sasaran, mengindikasikan negara abai dalam menjadikan bencana ini sebagai prioritas yang wajib dikedepankan penanganannya. Dalam sistem Kapitalisme, penanganan bencana yang dikedepankan adalah hitung-hitungan materi, menyelamatkan manusia bukanlah perkara utama yang mesti didahulukan.

Sistem Kapitalisme melahirkan penguasa yang tidak takut kepada Allah. Sistem Kapitalisme mencampakkan agama dari sistem kehidupakan berbangsa dan bernegara. Agama tidak perlu mengatur politik anggaran, agama tidak boleh mengatur urusan ekonomi. Agama tidak perlu mengurus bagaimana caranya mendistribusikan logistik pengungsi.

Disinilah bedanya dengan sistem Islam. Dalam Islam manajemen penanganan bencana alam disusun dan dijalankan dengan berpegang teguh pada prinsip “wajibnya seorang Khalifah melakukan ri’ayah (pelayanan) terhadap urusan-urusan rakyatnya”.

Khalifah adalah seorang pelayan rakyat yang akan dimintai pertanggungjawaban atas pelayanan yang ia lakukan.  Jika ia melayani rakyatnya dengan pelayanan yang baik, niscaya ia akan mendapatkan pahala yang melimpah ruah. Jika ia lalai dan abai dalam melayani urusan rakyat, niscaya, kekuasaannya akan menjadi sebab penyesalan dirinya kelak di akhirat.

Inilah yang telah dicontohkan Khalifah Umar bin Khattab Radhiyallahu ‘anhu. Dalam At-Thabaqâtul-Kubra karya Ibnu Sa’ad diceritakan bahwa pada saat daerah Hijaz benar-benar kering kerontang akibat musibah paceklik  yang berlangsung selama 9 bulan pada akhir tahun ke 18 H. Penduduk-penduduk pedesaan banyak yang mengungsi ke Madinah dan mereka tidak lagi memiliki bahan makanan sedikitpun.

Mendengarkan kabar itu, Umar Radhiyallahu ‘anhu dengan cepat segera membagi-bagikan makanan dan uang dari baitul mâl hingga gudang makanan dan baitul mâl kosong total. Dia juga memaksakan dirinya untuk tidak makan lemak, susu maupun makanan yang dapat membuat gemuk hingga musim paceklik ini berlalu.

Jika sebelumnya selalu dihidangkan roti dan lemak susu, maka pada masa ini ia hanya makan minyak dan cuka. Dia hanya mengisap-isap minyak, dan tidak pernah kenyang dengan makanan tersebut. Hingga warna kulit Umar Radhiyallahu ‘anhu menjadi hitam dan tubuhnya kurus; dan dikhawatirkan dia akan jatuh sakit dan lemah.

Karena itu dari sini dapat dipahami bahwa abainya penguasa menangani bencana diberbagai wilayah selain karena tidak takut pada Allah SWT, juga karena sistem yang dijalankan bertentangan dengan Islam, tidak sesuai fitrah manusia, tidak memanusiakan manusia. Solusinya, jadikan Islam sebagai satu-satunya sistem kehidupan berbangsa dan bernegara.

Wallahu a’lam bish shawab.

Related posts
Ulasan Utama

PAJAK DAN UTANG NEGARA MENJADI TANGGUNG JAWAB SELURUH RAKYAT TAPI KESEJAHTERAAN HANYA DINIKMATI SEKELOMPOK ORANG

Oleh Pujo Nugroho Assalim.id – Menurut Undang-Undang Nomor 28 tahun 2007 Pasal 1 Nomor 1…
Read more
Ulasan Utama

ILUSI KESEJAHTERAAN, BANGUN NEGARA DENGAN PAJAK

Agan Salim Rencana pemerintah yang akan mengenakan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) pada sembako…
Read more
Ulasan Utama

SURAMNYA APBN, BUMN, DANA HAJI HINGGA PPN “SAPU JAGAT”

Agan Salim Dalam sejarah peradaban, resesi ekonomi terjadi karena banyak hal. Mulai disebabkan…
Read more