Ulasan Utama

Anomali Pertumbuhan Semu Ekonomi Ala Kapitalisme

aliansi pengusaha muslim anomali pertumbuhan semu ekonomi ala kapitalisme

Aliansi Pengusaha Muslim – Baru-baru ini Badan Pusat Statistik (BPS) merilis pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal I-2020 sebesar 2,97% year-on-year (yoy). BPS mencatat bahwa pertumbuhan ekonomi kuartal I 2020 ini merupakan yang terendah sejak 2001. (kontan 05/05/20)

Kondisi ini langsung disikapi oleh Menteri Keuangan Sri Mulyani dengan mengungkapkan bahwa skenario terberat pertumbuhan ekonomi pada kuartal kedua 2020 akan berada di posisi 0,3 persen hingga minus 2,6 persen. Bahkan menyebutkan kuartal kedua 2020 merupakan periode terberat untuk perekonomian Indonesia (kompas 15/04/2020).

Sebagai negara yang menerapkan sistem ekonomi kapitalisme, tentu fakta diatas adalah sesuatu yang sangat membahayakan, karena mengindikasikan ekonomi mengalami krisis bahkan menuju resesi. Karena dalam sistem ekonomi kapiltalisme, ada dua indikator utama yang dijadikan pegangan oleh para pemimpinya dalam menilai kebijakan ekonomi mereka, yaitu Kinerja Pasar Saham dan PDB.

Keduanya merupakan indikator uang yang saat ini lebih banyak menceritakan kepada kita bagaimana cepatnya orang atau negara menjadi lebih kaya, daripada menceritakan kualitas yang sesungguhnya dari kehidupan manusia yang sebenarnya sebagai wakil pencipta untuk mengelola bumi saat ini.

Ini juga pernah diungkap Erik Brynjolfsson dalam laman World Economic Forum, beberapa waktu lalu yang mengatakan “PDB hanya menghitung semua yang kita beli dan kita jual. Bahkan, sangat mungkin PDB ini justru berseberangan dengan kesejahteraan yang sudah kita capai.”

Bahkan kritik keras akan fakta ini pernah disampaikan oleh David C.Korten dalam bukunya “The Post Corporate World: Life After Capitalism” yang mengkritisi pakar ekonomi kapitalis yang meyakini bahwa pertumbuhan ekonomi akan memperbesar kue ekonomi sehingga tiap orang akan memperoleh lebih banyak uang/materi. Menurutnya walaupun masuk akal tapi argumentasi ini tidak benar, karena berangkat dari dua hal yang salah pertama bahwa mencetak uang itu sama dengan menciptakan kekayaan. Kedua bahwa PDB merupakan pertambahan kekayaan dan kesejahteraan masyarakat.

Fakta PDB menurutnya hanya berbasis kapada perhitungan uang semata, sehingga mendorong manusia memiliki sifat konsumtif, karena dalam prakteknya semakin cepat kita membuang dan menganti mobil, computer, televisi, dan peralatan kita, maka semakin cepat pula PDB tumbuh.

Bayangkan ketika aktivitas membabat hutan, menangkap ikan dan megambil minyak bumi hanya menghitung hasil penjualannya saja, sebagai tambahan kekayaan tanpa mempertimbangkan dampak ekosistem yang ditimbulkan. Bisa jadi pertumbuhannya ekonominya cepat, tapi terjadi kesenjagan ekonomi dan kerusakan dimasa depan. Dan inilah yang terjadi saat ini di banyak negara.

Dampak buruknya tidak berhenti sampai disitu, Hyman Minsky dalam buku Stabilizing Unstable Economy mengatakan, fakta menunjukkan bahwa meskipun terjadi pertumbuhan ekonomi di AS, tetapi kesenjangan masih saja lebar, dan yang miskin semakin miskin. Di negara ini pada tahun 1990-an, masih mentoleransi 10 % masyarakatnya hidup dalam kemiskinan. Bagaimana mungkin negara maju membiarkan 10 % rakyatnya menderita dalam kemiskinan dan masih terjerembab dalam pengangguran.

Realitas ini pun terjadi di Indonesia saat ini, jumlah orang miskin di Indonesia saat ini adalah 9,22% atau setara dengan 24,79 juta jiwa. Angka ini jauh lebih besar dari jumlah penduduk dari 3 pulau di indonesia yaitu maluku, papua dan kalimantan yang berjumlah 23.05 juta jiwa. Bahkan melebihi jumlah populasi penduduk negara Austalia 2017 berjumlah 24,59 juta jiwa Australia (Litbang Assalim)

Pada titik inilah sebenarnya umat memerlukan solusi paripurna atas realitas yang terjadi dengan pertumbuhan ekonomi semu saat ini. Seperti yang pernah diungkap oleh pakar ekonomi Islam, Dwi Condro Triono PhD, bahwa Islam dengan politik ekonominya mengharuskan arus barang dan jasa serta pasar produksi dibolehkan untuk kekayaan yang terkategori dapat dimiliki individu. Barang-barang ini ditetapkan berdasarkan jumlah dan ketergantungan masyarakat terhadapnya.

Sementara barang-barang yang terkategori milik umum seperti sumber-sumber energi dalam jumlah besar, infrastruktur, komunikasi dan transportasi, harus dikelola negara untuk membiayai kebutuhan dasar rakyatnya, pembangunan industri berat, infrastruktur dan belanja negara serta pemodalan untuk usaha.

Pada aspek inilah, dapat terlihat bagaimana sistem ekonomi Islam bisa memastikan rakyatnya terjamin dari sisi kebutuhan pokok seperti sandang, pangan, papan, kesehatan, pendidikan, dan keamanan. Dan jauh dari asumsi-asumsi semu pertumbuhan saat ini [] Agan Salim

Related posts
Fokus Ekonomi

APBN Menurut Syariah Islam, Tahan Banting Di Saat Krisis

Aliansi Pengusaha Muslim – Seiring krisis APBN karena kondisi ekonomi di saat pandemi Covid-19…
Read more
Ulasan Utama

Krisis Ekonomi Bukan Ilusi Dalam Kapitalisme 

Aliasnsi Pengusaha Muslim – Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit…
Read more
Editorial

Hanya Satu Solusi Menurut Kapitalisme: Utang!

Aliansi Pengusaha Muslim – Sebagai sebuah negara dengan sistem kapitalisme, Indonesia akan…
Read more