Nafsiah

ORIENTASI UTAMA PENGUASA ADALAH MELAYANI RAKYAT

Nafsiah Assalim.id | Edisi 89
Oleh : Bung Dady

Assalim.id – Sahabat² Assalim yang baik nan budiman, dalam menjalani kehidupan, ragam masalah dan polemik kadang hadir menyambangi kita dan segenap ummat. Misal kadang ada saat² kita berkonflik dengan keluarga, saudara dan sahabat. Ini semua merupakan kewajaran dalam lika-liku kehidupan.

Asal bisa kita hadapi berbagai permasalahan diatas dengan panduan aturan yang benar yang diturunkan oleh Dzat Yang Maha-benar, yakni Rabb kita yakni Allah Subhaanahu wa Ta’aala. Syariah Islam yang adil dan rahmat bagi semesta alam. Sahabat pasti sepakat, kan? Terima kasih.

Pun demikian sahabat, dalam ranah yang lebih luas, masyarakat bahkan negara pasti memiliki berbagai permasalahan² yang dihadapinya, baik di tataran pejabat, aparat, tokoh masyarakat bahkan segenap rakyatnya. Ini semua juga merupakan kewajaran dalam lika-liku kehidupan masyarakat banyak.

Asalkan masyarakat dan negara tersebut, mampu hadapi berbagai permasalahan diatas dengan panduan aturan yang benar, yang diturunkan oleh Dzat Yang Maha-benar, yakni Rabb semesta alam yakni Allah Subhaanahu wa Ta’aala. Maka kehidupan yang ada akan harmoni dan sejahtera bisa diwujudkan secara nyata. Itulah urgensi adanya institusi yang bisa menerapkan Syariat Islam.

Di sinilah sahabat², pentingnya kesadaran dari kita semua, memahami betapa wajibnya kita mempunyai pemimpin yang berorientasi besar dan komitmen dalam pengurusan dan meriayah umat, melayani dan mengatur rakyatnya dengan aturan syariah Allah yang mulia.

Di dalam Islam kita diajarkan bahwa doa pemimpin yang adil merupakan salah satu doa yang diijaabah oleh Allah Ta’aala. Bahkan 1 diantara 7 golongan yang akan dinaungi (diberi perlindungan) oleh Allah disaat tidak ada naungan selain naungan-Nya. Inilah hebatnya pemimpin yang baik, taat dan benar dalam perspektif Islam.

Sahabat, kalau kita lihat fakta sekarang, sungguh miris dan prihatin sekali. Di saat rakyat masih dilanda kemiskinan dan penderitaan hidup efek pandemi Covid-19, penguasa negeri ini malah sibuk dengan angan-angan pemindahan ibukota negara (IKN). Sangat ironis, sebagai ekonom, Faisal Bashri juga ungkapkan lewat tweet,

“Dana Penanganan COVID-19 Dipakai Bangun IKN, Faisal Basri: Kejahatan Luar Biasa!. Fenomena lain, bahwa walau Investasi masuk, Sumber Daya Alam (SDA) dikuras, namun Rakyat Kaltim Masih Banyak yang Miskin dg penghasilan dibawah garis kemiskinan Rp700ribu/Bln. Hal ini tentu bisa menjadi perbandingan bahwa rencana IKN tidak akan banyak memberi dampak positif bagi Masyarakat Kaltim.” [Sumber : http//BPSkaltim.go.id/.]

Maka sangat mengherankan jika rencana IKN dilanjutkan. Baiknya penguasa dan pemerintah terkait sadar bahwa IKN layak ditunda dulu, apalagi jeritan rakyat makin kuat dan menyayat, dampak pandemi Covid-19 menerpa hampir 2 tahun lamanya.

Dalam sistem Islam jelas berbeda dari keadaan kini. Pertama, yakni Penguasa sebagai Rain (penggembala). Kisah Umar bin Khaththab saat menjadi Khalifah, sungguh layak diteladani oleh kita semua. Beliau berikan kebijakan yang adil dan bijaksana.

Di saat Gubernur beliau di Mesir, Amru bin Ash hendak membeli sepetak tanah didepan Masjid di wilayahnya. Namun si Yahudi pemilik tanah, tak bergeming dan tidak mau pindah. Sesaat Amru bin Ash mencoba tegas untuk menggusur tanahnya, ia bergegas mengadu kepada Umar bin Khattab. Mendengar penjelasan Yahudi tersebut, Umar mengambil sepotong tulang dan menggarisnya dengan pedangnya. Terheran si yahudi menerima tulang tersebut untuk diberikan kepada gubernur wilayahnya.

Merinding bukan kepalang Amru bin ‘Ash menerima kiriman Umar bin Khattab berupa tulang yg digaris pedang. Maka seketika pula rumah si Yahudi dikembalikan dan dibangun lebih bagus lagi. Betapa terheran si Yahudi tersebut, hingga ia terenyuh menyaksikan keadilan Islam. Maka iapun menyatakan masuk Begitulah sahabat, wujud pelayanan dan dedikasi yang diberikan pemimpin dalam Islam. Sungguh extra ordinary, dan sedemikian indahnya pancaran kepemimpinan didalam Islam.

Kedua, yakni Penguasa sebagai Junnah (perisai). Keberadaannya didalam Islam mempunyai tugas besar yakni menjadi perisai atau pelindung bagi rakyatnya. Harta, kehormatan, kesehatan, pendidikan hingga nyawa rakyat menjadi tanggung jawab penguasa. Dari sini mengingat wacana pemindahan Ibu Kota Negara (IKN) yang hangat dibicaraka, maka kita tentu selayaknya mencegah upaya oligarkhi yang memaksakan hal tersebut, mengingat kemiskinan masih dialami rakyat, ekonomi yang masih terpuruk, utang negara yang menumpuk lebih dari 6.000 Triliun. Dan segenap problema² besar yang dihadapi negeri kita ini tentunya.

Terakhir sahabat² Assalim, bahwa amanah menjadi penguasa, bukanlah sebuah hal yang ringan. Maka harus diraih dengan hati-hati, selaras dengan aturan yang benar.

Dari Abdurrahman bin Samurah dia berkata, “Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda kepadaku, ‘Wahai Abdurrahman bin Samurah, janganlah kamu meminta jabatan karena sesungguhnya jika diberikan JABATAN itu kepadamu dengan sebab PERMINTAAN, pasti jabatan itu (sepenuhnya) akan diserahkan kepadamu (TANPA PERTOLONGAN dari ALLAH). Dan jika JABATAN itu diberikan kepadamu BUKAN dengan PERMINTAAN, maka PASTI kamu akan DITOLONG oleh Allâh Azza wa Jalla dalam melaksanakan jabatan itu.” [HR. Bukhari, Muslim].

Wallaahu a’lam.

Related posts
Ulasan Utama

KARENA INVESTASI, RATUSAN PULAU DI MALUKU DILELANG

Ulasan Utama Assalim.idOleh: Pujo Nugroho Assalim.id – Sekitar ratusan gugusan pulau di…
Read more
Ulasan Utama

DAHSYAT, REVISI UU IKN DEMI HAK PENGELOLA LAHAN INVESTOR SAMPAI 180 TAHUN

Fokus Utama Assalim.idOleh: Pujo Nugroho Assalim.id – Pemerintah mengajukan revisi…
Read more
Fokus EkonomiInspirasi Pengusaha & Komunitas

SISTEM EKONOMI ISLAM, "SURGANYA" ENTREPRENEUR MUSLIM

Oleh : Yuliansyah ST.ME.CFPPengurus Pusat Aliansi Pengusaha Muslim (ASSALIM)Saat ini semua…
Read more