Fokus Ekonomi

Vaksinasi Dan Proyek Kapitalisasi Kesehatan

Oleh : ABID KARBELA.

Aliansi Pengusaha Muslim Dalam sebuah hadits riwayat Imam Bukhari, Rasulullah SAW bersabda, “Sekiranya manusia sudah memiliki harta sebanyak dua bukit, niscaya ia akan mencari harta pada bukit yang ketiga. Dan tidaklah manusia akan merasa kenyang, sampai perutnya dipenuhi dengan tanah (mati).”

Saat ini ketimpangan ekonomi akibat tabiat sistem kapitalisme sedang terjadi tak terkecuali dinegeri ini. Dari peristiwa politik, berupa regulasi dalam perundang-undangan seperti UU omnibus law, hingga kapitalisasi dalam hal Kesehatan.

Lihat saja skandal kapitalisasi pengadaan alat test kesehatan seperti Rapid Test dan PCR yang menjadi syarat dalam berbagai aktivitas yang menguras ekonomi rakyat, yang telah menjadi ladang bisnis baru yang menggiurkan. Belum lagi vaksin covid-19 yang menjadi fokus semua negara saat ini, dengan alokasi dana yang cukup fantastis dalam perspektif bisnis.
Negeri ini saja menurut rilis yang diungkapkan oleh Menko Perekonomian, Airlangga Hartarto menganggarkan biaya untuk pengadaan vaksin corona dari Tiongkok senilai Rp 37 triliun. ( detik.com, /9/2020)

Dari anggaran yang fantastis dan mengiurkan inilah, industri farmasi khususnya berlomba-lomba berebut pengaruh dan melakukan loby-loby tingkat tinggi dari tahap kerjasama pengadaan vaksin sampai tahap uji klinis. Sinovac Biotech misalnya, perusahaan vaksin ini dilaporkan telah menerima dana sekitar US$15 juta untuk pengembangan. Advantech Capital dan Vivo Capital telah menginvestasikan masing-masing US$7,5 juta di anak perusahaan Sinovac yakni Sinovac Research and Development ( bisnis.com, 26/05/2020).

Bahkan dampaknya sampai ke negeri ini, adanya kerjasama antara Sinovac dan Biofarma, saham perusahaan produsen vaksin berplat merah itu juga diserbu para investor/kapitalis. Dalam sebulan terakhir saham PT Kimia Farma Tbk menguat 180,83%. Begitu juga PT Indofarma Tbk naik 232% ( bisnis.com, 10/08/2020).

Dilihat dari pergerakan industri farmasi yang saling klaim, rebutan pengaruh dan kerjasan G to G terkait vaksin covid yang begitu terstruktur, sistematis, dan massif (TSM), terlihat sekali nuasa bisnis khas ala-kapitalis lebih dominan ketimbang aspek kesehatan yang dibutuhkan umat manusia dunia saat ini. Ini bisa dilihat dari pilihan-pilihan kebijakan yang dominan memposisikan vaksin hanya sebagai produk-produk kebutuhan ekspor impor yang lebih mengedepankan untung rugi semata.

Ini semua tidak terlepas dari tabiat ekonomi kapitalisme yang akan senantiasa fokus dengan membesarkan kapital dengan segala cara. Tak peduli ketika rakyat sedang dalam situasi wabah, pengangguran dimana-mana, kemiskinan merajalela, dan kebutuhan rakyat yang semakin mahal. Inilah bukti kesekian kali bahwa kapitalisme itu sistem kufur yang menyengsarakan. Berbeda dengan Ekonomi Islam yang exit goalnya memuliakan sumber daya manusia dalam tatanan Syariat Islam yang agung. Menjadikan kekayaan rakyat diatas standar kemakmuran dan meringankan beban kebutuhan rakyat bahkan gratis.

Fasadnya sistem kapitalisme yang diadopsi dunia saat ini dalam sudut pandang ekonomi global terlihat menuju ke titik nadir, ditengah hutang dan kebangkrutan negara adidaya kapitalisme dan para kroninya. Sehingga sudah seharusnya pemerintah dalam hal ini beralih kepada sistem ekonomi yang mampu memberikan pondasi bagi perekonomian dunia yang lebih stabil dan berkeadilan. Itulah sistem ekonomi islam yang kebangkitannya bersamaan dengan bangkitnya peradaban Islam yang sinar fajar siap kita songsong bersama. Allahuakbar. []