Fokus Ekonomi

Indonesia Darurat Krisis Ekonomi

Oleh : M. Azzam Al Fatih.

Perekonomian merupakan hal penting dalam sebuah negara maupun organisasi. Ibarat tubuh manusia ekonomi adalah jantungnya yang selalu memompa memberi nafas kehidupan. Tatkala denyutannya melemah maka akan berpengaruh terhadap organ tubuh lainya. Jika jantungnya sakit hal yang paling urgen harus segera diobati. Namun jika memang tidak tertolong hal terpuruk adalah kematian.

Suatu negara dinilai ekonominya tidak sehat manakala perekonomian melemah. Banyak hutang yang akhirnya gali lubang tutup lubang. segala cara pun ditempuh untuk memberikan nafas perekonomian misalnya menaikkan pajak, menarik pajak di luar kewajaran. Dan hal yang paling nampak adalah naiknya pengangguran dan kemiskinan.

Ternyata hal ini dialami negeri berpenduduk muslim terbesar di dunia, Di mana hutangnya semakin melambung dari tahun ke tahun. Sampai bulan Agustus 2020 saja hutang Indonesia mencapai 413.4 milyar dollar AS atau setara dengan 6.076,9 triliun Sebagaimana yang diberitakan oleh money kompas Kamis 15 Oktober 2020.
https://amp.kompas.com/money/read/2020/10/15/110905326/naik-utang-indonesia-pada-agustus-2020-tembus-rp-6076-triliun

Ironisnya, hutang sebesar itu bukanlah menjadi perhatian serius. Buktinya negeri ini mengambil kebijakan pinjaman utang luar negeri dari Australia sebesar 15,45 triliun dan hutang bilateral dari jerman sebesar 9,1 triliun. Jadi total tambahan hutang baru RI 24,5 triliun. ( Kompas tv tanggal 21/11/2020). Tentu jumlah tersebut tidak lah sedikit jika diukur dari kondisi perekonomiannya.

Sulit dibayangkan dengan besarnya hutang luar negeri yang saat ini melambung tinggi. ibarat orang mau berjalan, namun berat untuk melangkahkan kakinya seolah – olah hanya jalan di tempat, mundur hancur maju pun lebur. Maka wajar jika seorang menteri keuangan terbaik dunia versi kapitalisme, hanya bisa gali lubang – tutup lubang, Wira – Wiri cari pinjaman seolah menjadi solusi paling ampuh. Ketika solusi tersebut belum juga membuahkan hasil, hal yang dilakukan adalah dengan menaikkan dan menarik pajak – pajak yang dianggap bisa membantu perekonomian negara.

Lagi – lagi rakyatlah yang menjadi korban, berusaha untuk mencukupi kebutuhannya sekaligus mencukupi kebutuhan para pejabat negeri dan cukong kapitalisme. Banting tulang, kepala jadi kaki kaki jadi kepala. Keringat belum kering rakyat pun harus mandi keringat lagi. Sungguh suatu kedzaliman yang nyata terhadap rakyatnya sendiri.
Tapi inilah watak dari ideologi kapitalisme yang zholim, merampok, memeras, menginjak – injak, lalu membunuhnya.

Oleh karena itu apa yang dialami negeri ini sudah tergolong darurat ekonomi yang harus diobati, diamputasi dan diganti. Sebab denyutan perekonomian yang semakin melemah, sangat berpengaruh pada sektor lainya. Misalnya pelayanan kesehatan makin memburuk, BPJS yang selama ini dianggap sebagai solusi ternyata menambah beban penderitaan bagi rakyat. BPJS yang katanya pelayanan dengan sistem gotong royong ternyata malah menjadi mesin pembunuh bagi rakyat pasalnya mengambil kebijakan kontroversi dengan menaikkan iuran BPJS JKN sampai 100 %, bagi yang telat bayar terkena denda, begitupun bagi yang nunggak dikenai sanksi. Bukankah hal ini kebijakan yang zalim, menindas, dan membunuh rakyat secara halus.

Perekonomian yang melemah juga berdampak terhadap harga bahan pokok lainya naik melambung, begitu juga dengan perbisnisan baik jasa maupun barang menjadi lesu. Dan masih banyak dampak yang dirasakan oleh rakyat.

Sebenarnya awal dari darurat perekonomian di negeri adalah hutang dengan cara ribawi yang dijalankan oleh kapitalisme dengan dalih penanaman saham.

Memang benar kapitalisme telah membuat negara ini darurat ekonomi. Pasalnya ideologi yang menerapkan hutang ribawi mencekik perekonomian Indonesia. Hutang yang tidak terselesaikan akan terus melambung dikarenakan bunga yang tinggi serta denda – denda yang diterapkan. Oleh sebab itu Allah SWT melarang riba, dalam Al Qur’an surat Ali Imran ayat 130.

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا تَأْكُلُوا الرِّبٰوٓا اَضْعَافًا مُّضٰعَفَةً ۖوَّاتَّقُوا اللّٰهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَۚ

“Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu memakan riba dengan berlipat ganda dan bertakwalah kepada Allah agar kamu beruntung”.

Jika masalah yang serius ini tidak terselesaikan, hal terjadi adalah hancurnya suatu negeri dan akhirnya jatuh ke tangan penjajah. karena sejatinya kafir penjajah masih bercokol menjajah negeri ini lewat sistem yang bernama demokrasi yang merupakan sistem politik dari ideologi kapitalisme.

Maka wajar bila negeri ini tidak beranjak dari problematikanya. Sebab ekonominya sudah diambang kehancuran , namun masih terus mencari pinjaman Ribawi. Sangat ironis.

Oleh karena itu jika negara ingin selamat dari krisis ekonomi yang memang sudah diambang kehancuran. Maka jalan satu – satunya adalah mengamputasi beban hutang ribawi dan memutus kerjasama penanaman modal. Karena dua hal ini merupakan jebakan dari kaum kapitalis untuk mencengkeram negeri muslim dalam rangka mengeksiskan penjajahan.

Bukankah negeri ini terkenal dengan kekayaan yang melimpah. Yang dengannya dapat dimanfaatkan sebaik mungkin untuk menopang roda pemerintahan. terutama ekonomi yang merupakan jantung negara. Sesungguhnya Kekayaan yang Allah limpahkan kepada hambanya masih melimpah ruah. Tentunya masih cukup untuk menjadikan negara yang mandiri tanpa hutang dari luar yang ribawi.

Namun perlu saya tekankan, bahwa untuk memulihkan ekonomi yang sudah diambang kehancuran ini. Tidak akan terwujud kecuali dengan menerapkan syariat Islam secara kaffah. Sebab hanya mengurusi bidang ekonomi saja belum menjadikan solusi tuntas. Di mana syar’iat Islam akan saling keterkaitan dalam mengurus suatu negeri. Disinilah pentingnya institusi negara yang lahir dari ideologi Islam. Yang akan menerapkan syariat islam secara kaffah. Yakni aturan yang hanya bersumber pada Al Qur’an, Hadist, Ijma’ sahabat dan qiyas. Dengannya akan terwujud kehidupan barokah yang menentramkan dan membahagiakan seluruh umat manusia. Inilah yang dinamakan Islam rahmatan Lil Al-Amin.

Wallahua’lam bishowwab.