Fokus Ekonomi

HARGA TELUR ANJLOK, BIAYA PRODUKSI SELANGIT, PETERNAK MENJERIT

Oleh: M Azzam Al Fatih

Melansir dari berita Online sorot Gunungkidul pada 18 September 2021 perihal harga telur anjlok kisaran per kilo Rp15.000-17.000. Hal ini membuat para peternak telur mulai gulung tikar disebabkan harga produksi selangit. Mau tidak mau para peternak memilih berhenti untuk menghindari kerugian yang lebih banyak.

Seperti yang disampaikan oleh Murni Lestari, seorang peternak ayam yang tinggal di Dusun Dengok 2 Kelurahan Dengok Kapanewon Playen. Dia mengatakan bahwa lebih memilih mengosongkan kandang sejak enam bulan yang lalu.

Anjloknya harga telur juga terjadi di berbagai daerah, salah satunya terjadi di Blitar, dengan harga telur turun hingga Rp 13 ribu per kilogram. Harga tersebut jauh di bawah harga telur ayam di Jakarta yang masih berada di kisaran Rp 22 ribu per kilogram.

Tentu saja hal ini berdampak buruk terhadap ekonomi dan kesejahteraan rakyat. Dari sisi peternak mengalami perekonomian yang turun bahkan kehilangan pemasukan, karena memilih untuk berhenti berternak. Di sisi masyarakat, berdampak terhadap masyarakat bidang pangan khususnya pangan bergizi tinggi sumber protein hewani.

Anjloknya harga telur akhirnya mendapat perhatian pakar peternakan IPB Prof Niken. “Pengaruh buruk akibat harga telur yang anjlok adalah beberapa peternak rakyat atau peternak mandiri mulai menutup usahanya. Apabila ini tidak segera diatasi, maka ke depannya masyarakat akan mengalami krisis pangan khususnya telur ayam sebagai pangan bergizi tinggi sumber protein hewani,” katanya sebagaimana dilansir dalam laman IPB University, Selasa (21/9/2021) dan dikutip Okezone.com.

Memang benar, anjloknya harga telur berakibat buruk terhadap masyarakat. Sebab telur sudah menjadi salah satu bahan pokok wajib demi terpenuhinya kebutuhan gizi masyarakat.

Dalam hal ini, negara harus bertanggung jawab penuh agar kebutuhan masyarakat tersedia cukup dengan harga terjangkau. Karena keberadaan negara adalah sebagai pelayan dan pelindung bagi masyarakat. Mengusahakan semaksimal mungkin agar kebutuhan gizi warganya tercukupi.

Negara harus mencari sebab yang mengakibatkan para peternak gulung tikar, kemudian memberikan solusi. Sebab, peternak adalah garda terdepan dalam produksi telur. Jika mahalnya biaya produksi, terutama harga pakan yang menjadi penyebab utama kerugian peternak, maka negara mencari solusi sebaik mungkin.

Di saat kondisi harga telur belum stabil, maka negara berkewajiban memberikan pelayanan kebutuhan pokok para peternak tersebut. Jangan sampai mereka kelaparan lantaran kehilangan mata pencaharian disebabkan gulung tikar akibat harga anjlok. Di sisi lain, negara juga memberikan solusi agar para peternak telur tetap eksis.

Namun ri’ayah terbaik terhadap rakyat, (dalam hal ini para peternak telur) tidak akan terwujud dalam sistem kapitalisme sekuler. Sebab sistem ini berasaskan manfaat, yang segalanya diukur untung dan rugi. Tidak peduli kondisi apakah rakyatnya sedang bahagia atau susah, semua kebijakan harus ada untungnya. Maka wajar, jika banyak peternak ayam petelur gulung tikar.

Pelayanan terbaik dengan terwujudnya ekonomi yang sejahtera, lapangan kerja dan perhatian yang baik terhadap peternak hanya dalam Islam. Meri’ayah dengan memberikan solusi dan jaminan ekonomi akibat krisis yang dialami. Dan memastikan bahwa mereka telah ter-cover secara baik. Baitul mal yang menjadi alternatif pembiayaan kesejahteraan selalu dipantau. Jika memang Baitul mal mengalami defisit, maka seorang khalifah berusaha semaksimal mungkin agar rakyat tetap dalam pelayanan terbaik. Sebab pemimpin dalam Islam mempunyai amanah besar, yang akan di mintai pertanggungjawaban oleh Allah SWT.

Di masa Khalifah Umar Bin Khattab pun pernah terjadi krisis. Beliau pun segera mengeluarkan kebijakan untuk menanggulangi krisis tersebut secara cepat, tepat dan komprehensif yakni, pemenuhan kebutuhan masyarakat oleh baitul mal.

Khalifah Umar ra tidak berpangku tangan atau sekadar perintah sana, perintah sini saja. Beliau langsung turun tangan mengomando dan menangani krisis tersebut. Beliau langsung memerintahkan mendirikan posko untuk para pengungsi, memastikan setiap petugas memahami pekerjaan yang dilimpahkan dengan benar.

Demikianlah Islam dalam menyelesaikan krisis ekonomi yang dapat dituntaskan secara baik. Jika hal ini diterapkan oleh negara Indonesia, permasalahan peternak, dan krisis ekonomi dapat diselesaikan secara cepat. berbeda dengan sistem kapitalisme yang selalu mencari keuntungan dalam situasi apapun. Sehingga krisis pun tidak dapat diselesaikan bahkan semakin bertambah.

Well, pilihan ada pada diri seluruh rakyat, khususnya umat muslim. Jika menginginkan kesejahteraan bagi seluruh rakyat, maka hanya dengan sistem Islamlah segala permasalahan dapat diselesaikan secara tuntas. Wallahua’lam bishowwab.

Related posts
Fokus Ekonomi

YAHUDI DAN OLIGARKI DUNIA

Oleh : Bung Abid Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kamu (umat Islam), umat yang adil dan…
Read more