Fokus Ekonomi

Dampak Sosial Dari Covid-19 Pada Rakyat

aliansi pengusaha muslim Dampak Sosial Dari Covid-19 Pada Rakyat

Oleh : Abah Widad

Aliansi Pengusaha Muslim – Sahabat, setelah shalat di Mushola, seorang jamaah sampaikan, “Abah, sedari awal musibah Covid-19, saya dan keluarga tidak pernah mendapat bantuan dari pemerintah”. Betapa kaget, mendengar keluhan pak Suryanto, seorang kepala rumah tangga di kampung abah tinggal.

Padahal, diberita² diblow up bahwa pemerintah telah kucurkan ratusan triliun. Kemana ya, kucuran ratusan triliun mengalir?, diterima siapa?, atau masih tertimbun dimana? Pertanyaan demi pertanyaan menggelayuti benak Abah.

Mendengar info di salahsatu stasiun TV swasta, Rapid test di stasiun misalnya, tiap hari bisa 2.000 orang yang lakukan rapid test. Harga dipatok @ Rp 85.000 per sekali rapid test.

Sahabat bisa bayangkan, kalau 85.000 x 2.000 berapa ? Iya benar, tiap hari bisa terkumpul sejumlah Rp 170.000.000, itu baru kereta api, belum lagi moda angkutan yang lain, fantastis bukan !

Duka lara makin dialami rakyat, tanpa adanya tanggung jawab dari pemerintah terhadap mereka yang terdampak. Padahal, jika sedari awal diberlakukan perlindungan berupa lockdown, tidak boleh masuknya pendatang dari Luar negeri, khususnya dari daerah asal wabah Covid-19, kemudian tunjangan dan jaminan sembako diberikan kepada rakyat negeri kita, maka tentu hal bisa menyelamatkan rakyat sedari dini.

Namun hal tersebut tidak dilakukan, malah diambil kebijakan aneh yakni semisal PSBB, Pembatasan Sosial Berskala Besar. Herd Community dan lain² yang mengesankan abainya perlindungan terhadap rakyat.

Di kalangan sukarelawan yg rela disuntik Vaksin juga berduka, ada yg meninggal dunia, pasca di suntik vaksin. Relawan uji klinis vaksin COVID-19 AstraZeneca di Brasil misalnya meninggal dunia, rabu (21/10/2020). Belakangan, media lokal Brasil mengabarkan relawan tersebut merupakan seorang dokter.
Dikutip dari The Guardian, relawan yang meninggal dilaporkan bernama Dr Joao Pedro Feitosa. Ia merupakan petugas medis berusia 28 tahun, yang merawat pasien COVID-19.

Di negeri kita, kekhawatiran dan kegaduhan juga merebak di masyarakat, akan rencana suntik massal vaksi di bulan nopember ini, yang kabarnya telah dibeli jutaan vaksin. Walaupun akhirnya diralat karena belum ada jaminan keapuhannya.

Disaat rakyat dibuat gaduh soal vaksin, problem sosial tidak juga reda, banyak rakyat yang di PHK, Upah minimum propinsi yang tidak diberikan. Bahkan dalam pantauan Abah hanya DIY diberitakan yang akan naikkan UMP, lewat steatment HB X dalam sebuah kesempatan.

Dari aspek Kriminalitas juga meningkat pesat, sebelumnya betapa banyak residivis yg dibebaskan oleh Kemenkumham, pasca hal tersebut banyak kasus kriminal semisal pembegalan. Seorang ibu sewaktu pagi gelap, dikejar 2 pembegal yang berencana rebut motor dan tas yang beliau gunakan. Ini merupakan satu diantara ratusan kasus serupa.

Bahkan seorang pensiunan marinir juga alami luka² saat mempertahankan tas beliau, kala nggowes di sekitar perumahan dimana beliau tingal.

Yang paling kita harapkan dari kegaduhan saat ini adalah perubahan pada kondisi sekarang, dan solusi akan hadirnya sulthaan nashiira (kekuasaan yang menolong), bukan malah penguasa yang “menyolong”, Miris rasanya Abah akan hebohnya sebuah nama seorang di Uni Emirat Arab. ditukar dengan lahan rakyat teramat luas disebuah pulau. [AW]