Fokus Ekonomi

Bahaya Utang dan Investasi Asing

aliansi pengusaha muslim bahaya utang dan investasi asing

Oleh : Muis
Divisi Litbang ASSALIM

Aliansi Pengusaha Muslim – Soal inflasi, Amerika bisa mengalihkan beban ke segala pihak yang memegang uang dolar di seluruh dunia. Dampaknya, pertumbuhan ekonomi yang muncul akan bersifat semu (bubble economy) dan ancaman kolapsnya pun tinggal menunggu waktu.

Bagi negara-negara Dunia Ketiga yang ikut-ikutan menerapkan Kapitalisme, utang telah menjadi alternatif andalan dalam pembiayaan pembangunan mereka sejak berakhirnya Perang Dunia II (1945). Namun, para penguasa Dunia Ketiga itu tidak sadar, bahwa utang luar negeri sebenarnya lebih bermotif ideologi-politik daripada motif ekonomi.

John F Kennedy tahun 1962 pernah menegaskan, bahwa utang luar negeri merupakan metode AS untuk mempertahankan kedudukannya yang berpengaruh dan memiliki pengawasan di seluruh dunia.

Dengan demikian, utang luar negeri bagi negara-negara Dunia Ketiga bukan saja menimbulkan masalah ekonomi (beban utang yang berat), namun juga masalah ideologi dan politik, yaitu hegemoni ideologi Kapitalisme di negeri-negeri Islam.

Investasi asing yang dilakukan negeri-negeri Islam terbukti lebih menguntungkan negara-negara investor dan sebaliknya merugikan ekonomi lokal. Ekonom Sritua Arief pernah menghitung, untuk 1 dolar AS investasi asing yang masuk ke Indonesia, ternyata yang balik lagi keluar dari Indonesia adalah sepuluh kali lipatnya, alias 10 dolar AS.

Asing ini bermain di pasar modal. Mereka memainkan uang mereka di Indonesia. Membeli saham-saham perusahaan yang bagus, dan kemudian pada waktu tertentu, sekiranya menguntungkan maka mereka akan menarik uang mereka.

Dengan investasi lewat pasar saham ini, investor asing dengan mudah menguasai perusahaan-perusahaan vital di Indonesia. Dan, ternyata ini digunakan oleh perusahaan multinasional untuk menghisap dan eksploitasi secara kejam sumber daya alam Indonesia.

Seorang tokoh nasional pernah menyebut bahwa lebih dari 70 persen sumberdaya alam Indonesia dikuasai asing. Indonesia hanya mendapat bagian sedikit, ditambah ‘bonus’ mengerikan berupa kerusakan lingkungan dan konflik sosial.