Fokus Ekonomi

BADAI CRYPTOCURRENCY, KRISIS KHAS KAPITALISME

Fokus Ekonomi Assalim.id
Oleh: Pujo Nugroho

Assalim.id – Beberapa bulan ini pasar cryptocurrency (selanjutnya disebut kripto) mengalami badai besar. Pukulan yang dialaminya terbilang sangat keras. Sebagian pengamat menganggap Crypto Winters sudah melanda. Crypto Winters adalah fenomena jatuhnya harga atau nilai mata uang kripto di pasar secara drastis dan berkepanjangan.

Untuk diketahui hampir seluruh mata uang kripto terjun bebas. Seperti harga Bitcoin (BTC) dan Ethereum (ETH) dua mata uang kripto paling populer. Mengutip apa yang diberitakan KompasTekno (20/6/2022) di situs Coin Market Cap, pada Senin (20/6/2022) sekitar pukul 12.30 WIB, harga BTC anjlok sebesar 53, persen sejak tiga bulan terakhir.

Kini, harga 1 koin BTC setara dengan Rp 294.795.498. Sementara itu, harga ETH juga turun drastis sebesar 64,71 persen sejak tiga bulan terakhir. Nilai 1 ETH kini setara dengan Rp 15.851.613.

Jika dua mata uang kripto populer ini saja rontok apa lagi mata uang lainnya.

Secara keseluruhan nilai kapitalisasi pasar kripto yang mencapai US$ 3 triliun pada bulan November, kini turun di bawah $1 triliun selama jam perdagangan Wall Street pada hari Senin (13/6/2022) atau hilang US$ 2 triliun. Jika dirupiahkan setara Rp 29.476 triliun. Bayangkan sebanyak Rp 29.476 triliun uang menguap karena gejolak ini.

Dampak Domino

Badai ini pun berlanjut ke beberapa sektor sebagai wujud efek domino. Misalnya dihentikannya aktivitas Voyager Digital. Voyager Digital adalah pialang aset digital, ia telah menghentikan semua perdagangan pelanggan, setoran, penarikan, dan hadiah loyalitas (reward).

Penghentian sementara layanan Voyager Digital muncul beberapa hari setelah salah satu pelanggan Voyager gagal melakukan pembayaran pinjaman ratusan juta dolar, memicu kekhawatiran efek domino kebangkrutan di seluruh industri.

Apa yang terjadi pada Voyager Digital juga terjadi dihampir seluruh perusahaan transaksi kripto seperti Celsius Network yang menghentikan sementara penarikan dan transfer antar-akun. Keputusan ini segera menimbulkan kepanikan para pelaku pasar kripto. Hal senada juga terjadi pada Vauld perusahaan sejenis yang berkedudukan di Singapura.

Di bidang lain, Three Arrows Capital perusahaan bermarkas di Singapura yang berfokus pada pengelolaan dana lindung nilai (hedge fund) yang memberikan pengembalian yang disesuaikan dengan risiko juga mengalami krisis, yaitu likuiditas alias keterbatasan dana.

Pengurangan pegawai juga terjadi. Pertukaran kripto Coinbase misalnya yang berencana untuk mengurangi sebanyak 1.100 pekerja untuk mempersiapkan musim dingin kripto.

Sementara itu pemberi pinjaman kripto BlockFi mengatakan akan mengurangi jumlah karyawannya lebih dari 400, sekitar 20 persen. Tak hanya itu, Crypto.com mengatakan akan memangkas sekitar 5 persen dari tenaga kerjanya, berjumlah sekitar 260 karyawan.

Masalah Klasik Kapitalisme

Seperti yang diberitakan Kompas.com (20/6/2022) spekulasi bakal terjadinya Crypto Winter jilid dua sebenarnya telah muncul sejak beberapa bulan yang lalu. Dikutip dari laman Forbes, Crypto Winter umumnya diakibatkan ketika terdapat aksi penjualan besar-besaran mata uang kripto dari harga tertinggi.

Selain itu, merosotnya harga mata uang kripto juga timbul akibat sentimen negatif dari pasar. Sentimen negatif itu muncul dari beberapa fenomena, misalnya seperti merosotnya nilai mata uang kripto LUNA lebih dari 90 persen dalam sebulan terakhir pada Mei lalu.

Kemudian, sentimen negatif atas pasar mata uang kripto juga disebabkan karena adanya aksi penangguhan atau pembekuan transaksi kripto dari platform perbankan cryptocurrency Celcius Network.

Aksi itu menyebabkan pengguna tidak dapat menarik mata uang kripto yang disimpan pada Celcius Network. Pembekuan ini dikatakan Celcius Network bertujuan untuk menstabilkan daya tukar kripto (likuiditas) dan operasinya.

Untuk diketahui fenomena merosotnya nilai mata uang kripto ini bukanlah yang pertama kali terjadi di pasar. Istilah Crypto Winter sendiri sudah dipakai sejak awal 2018, untuk menandai merosotnya nilai Bitcoin di pasar lebih dari 80 persen.

Pada 2017, Bitcoin pernah mencapai level harga tertingginya di angka hampir 19.500 dollar AS (Rp 289 juta bila menggunakan kurs saat ini). Memasuki 2018, harga bitcoin anjlok jadi sekitar 3.300 dollar AS (Rp 48 juta).

Crypto Winter di masa itu berlangsung mulai Januari 2018 hingga Desember 2020. Setelah itu, harga mata uang kripto berangsur pulih. Puncaknya di November 2021, harga 1 koin Bitcoin sempat berada di level 68.990 dollar AS (Rp 1 miliar).

Namun, menguatnya nilai mata uang kripto itu tak berlangsung lama. Nilai beberapa mata uang kripto, termasuk Bitcoin dan Ethereum, terus mengalami kemerosotan hingga 70 persen, sejak tujuh bulan terakhir dari November 2021.

Fenomena merosotnya nilai mata uang kripto selama berbulan-bulan itulah yang kemudian diindikasikan pula sebagai Crypto Winters (Cryoto Winters jilid 2), mirip seperti yang terjadi pada tahun 2018. Dan inilah yang terjadi saat ini.

Jika kita perhatikan persoalan ini tidak terlepas dari persoalan klasik kapitalisme. Di mana kripto tidak saja menjadi alat tukar, dalam hal ini alat tukar digital, tetapi juga sebagai mata uang yang diperjual-belikan.

Inilah yang juga terjadi pada mata uang konvensional yang tidak saja sebagai alat tukar tetapi juga diperdagangkan di bursa mata uang (valas).

Di sinilah spekulasi terjadi. Ketika persoalan menimpa mata uang kripto, semisal pembatasan oleh sebuah negara, inflasi secara makro-ekonomi, aset investasi lain yang lebih menarik, atau kecurangan yang terjadi maka spekulasi bisa terpicu.

Para investor bisa berlomba-lomba melepas uang kriptonya yang menyebabkan harganya terus merosot. Seperti yang disebut di atas pada Crypto Winters jilid 2 ini kapitalisasinya menguap sebesar US$ 2 triliun (jika dirupiahkan setara Rp 29.476 triliun).

Parahnya, bagi kapitalis yang memiliki modal besar jatuhnya harga kripto menjadi momentum bagi mereka untuk membeli dan mengumpulkan aset kripto. Dan akan meraup keuntungan besar saat harganya mulai membaik.

Problem kripto juga tidak sederhana. Berbeda dengan mata uang yang diterbitkan sebuah negara, kripto tidaklah seperti itu. Salah satu pendiri dan CIO di manajer dana kripto Valkyrie Investments, Steven McClurg mengatakan, “Dasar-dasar untuk mendukung stabilisasi dan pemulihan tidak ada di sana,” ujarnya.

“Segalanya bisa dan kemungkinan akan menjadi lebih buruk sebelum menjadi lebih baik,” kata McClurg dikutip dari Yahoo Finance, Selasa (14/6/2022).

Apa yang terjadi ini adalah sebuah kerusakan. Cara ini penuh spekulasi dan saling mengambil keuntungan dengan merugikan pihak lain. Menguapnya dana dengan sendirinya akibat spekulasi terlebih lagi nilainya ribuan triliun rupiah tentu bukan persoalan sederhana. Tidak saja sebuah perusahaan yang bangkrut bisa jadi sebuah negara. Dan demikianlah kapitalisme. Sebagai sebuah ideologi ideologi ini rakus dan destruktif. Wallahua’lam.[]

Related posts
Ulasan Utama

KARENA INVESTASI, RATUSAN PULAU DI MALUKU DILELANG

Ulasan Utama Assalim.idOleh: Pujo Nugroho Assalim.id – Sekitar ratusan gugusan pulau di…
Read more
Ulasan Utama

DAHSYAT, REVISI UU IKN DEMI HAK PENGELOLA LAHAN INVESTOR SAMPAI 180 TAHUN

Fokus Utama Assalim.idOleh: Pujo Nugroho Assalim.id – Pemerintah mengajukan revisi…
Read more
Fokus EkonomiInspirasi Pengusaha & Komunitas

SISTEM EKONOMI ISLAM, "SURGANYA" ENTREPRENEUR MUSLIM

Oleh : Yuliansyah ST.ME.CFPPengurus Pusat Aliansi Pengusaha Muslim (ASSALIM)Saat ini semua…
Read more