Fokus Ekonomi

ADA AS DI BALIK ISRAEL, LALU HARUS DENGAN APA LAGI MENGUSIR ISRAEL?

Oleh : Abu Nabhan

Konflik Israel dan Palestina terus terjadi, masjid al Aqsa dibombardir, tidak terhitung kaum muslim syahid di medan jihad mempertahankan tanah kaum muslimin di Palestina. Tapi negara-negara Timur Tengah termasuk Indonesia tidak mampu berbuat apa-apa selain sebatas mengecam.

Namun empati berupa donasi dari umat Islam di negeri-negeri kaum muslimin tak diragukan lagi. Ustad Adi Hidayat misalnya, hanya dalam enam hari mampu mengumpulkan donasi Rp30 M, Muhammadiyah sudah mengirim ke Palestina tujuh miliar, ACT hingga 17 Mei 2021 sebesar Rp4,6 M. Termasuk Kuwait hanya dalam tiga hari terkumpul Rp95 M.

Tapi apakah ini menghentikan kebiadaban Israel menumpahkan darah kaum muslimin yang tidak berdosa?, tentu tidak!. Analoginya, jika ada tetangga kita didatangi penjahat ke rumahnya dan kemudian memukuli dan menganiaya tetangga tersebut, dan kemudian kita galang bantuan untuk bantuan makanan, obat-obatan untuk mengobati luka-lukanya.

Setelah diberikan makan dan diobati selanjutnya kita tinggalkan dia di dalam rumahnya, tapi si penganiaya tetap ada dan kembali menganiayanya. Begitu seterusnya yang kita lakukan. Tapi sipenganiaya terus bereaksi tanpa kita mengusir mereka. Apakah ini mengobati penderitaan atau menzalimi tetangga?, ya tentu menzalimi!

Lalu mengapa pemimpin negeri-negeri kaum muslimin hanya sebatas mengecam saja?. Pertama, adanya ketakutan terhadap Amerika Serikat (AS) yang menjadi sekutu Israel. Mereka berpikir jika AS marah negaranya bisa diboikot, diinvansi, atau bahkan diserang dengan nuklir, yang mana itu semua mengancam keselamatan diri mereka.

Memang benar, AS tidak akan rela membiarkan Israel dihancurkan, mengapa?. Karena AS memiliki investasi militer di Israel yang sangat besar. Selain sebagai bentuk komitmen historis sejak AS memberikan dukungan atas pembentukan negara Yahudi pada tahun 1948. Juga, Israel adalah sekutu penting AS di Timur Tengah yang mempunyai tujuan dan komitmen bersama untuk menguasai negeri-negeri kaum muslimin.

Badan bantuan luar negeri pemerintah AS mengakui, bahwa bantuan AS ditujukan untuk memastikan bahwa Israel cukup aman menempuh langkah-langkah yang diperlukan untuk mencapai perjanjian damai dengan Palestina dan untuk perdamaian regional yang menyeluruh.

Menurut data USAID, Pada 2019, sejak Perang Dunia Kedua Israel tercatat sebagai penerima bantuan luar negeri AS terbesar kedua sesudah Afghanistan. Selama bertahun-tahun, AS telah membantu Israel mengembangkan salah satu militer termaju di dunia. Dengan dana itu, Israel mampu membeli peralatan militer canggih dari AS seperti pesawat tempur 50 F-35, yang bisa digunakan untuk meluncurkan serangan rudal.

Pada 2020, Israel membeli delapan pesawat Boeing ‘Pegasus’ KC-46A dengan harga diperkirakan mencapai USD2,4 miliar (Rp34 triliun). Pesawat itu mampu mengisi bahan bakar di udara seperti untuk pesawat F-35 . Sejak 2011, AS menyumbang secara keseluruhan USD1,6 miliar (Rp23 triliun) untuk sistem pertahanan Kubah Besi dan sistem-sistem lain yang dapat mencegat serangan roket ke wilayah Israel.

Bahkan pada 2020 lalu, AS menggelontorkan dana USD3,8 miliar (Rp55 triliun) ke Israel untuk pertahanan Kuba Besi, termasuk untuk sistem untuk mendeteksi terowongan yang digunakan untuk menyusup ke wilayah Israel. Menurut according to the Congressional Research Service (CRS) hampir seluruh bantuan yang disalurkan itu adalah bantuan militer.

Dilansir okezone, edisi 25 Mei 2021, bantuan AS ini merupakan bagian dari komitmen tahunan jangka panjang hingga 2028 yang dibuat di masa pemerintahan Presiden Barack Obama sejak 2016 lalu. Total bantuan militer yang akan diterima Israel mencapai USD38 miliar (sekitar Rp546 triliun).

Ternyata buka hanya Israel yang mendapatkan bantuan AS, Afganistan USD370 juta (Rp5,3 triliun) dianggarkan untuk tahun 2021. Bantuan ini untuk mendukung program militer AS menstabilkan negara yang telah mengalami perang sejak invasi AS pada 2001 itu.

Mesir dan Yordania juga penerima bantuan besar dari AS. Keduanya terikat kesepakatan damai dengan Israel, setelah masing-masing pernah terlibat perang dengan negara itu. Masing-masing menerima sekitar USD1,5 miliar (Rp21,5 triliun) dalam bentuk bantuan dari AS pada tahun 2019.

Ternyata tidak sampai disitu, pertanyaan selanjutnya, mengapa Tank-tank Israel bisa berjalan, pesawat-pesawat tempur Israel bisa terbang, dan roket-roket Israel bisa meluncur menghancurkan Palestina?, mungkinkah semua itu bergerak tanpa minyak sementara Israel maupun AS bukan eksportir minyak?

Jawabnya tidak?, itu semua karena minyak dari negara-negara Arab. Arab Saudi, Mesir, Irak, dan negara-negara Arab lainnya adalah eksportir minyak dan gas alam terbesar ke Israel. Tanpa minyak dari negara Arab, Israel tak akan mampu membantai ummat Islam di Palestina.

Bandingkan di tahun 1970-an, negara-negara Arab mampu membuat AS dan Israel mundur dengan embargo minyak. Bandingkan dengan sekarang, justru negara-negara Arab yang dipimpin oleh mereka yang pro atau takut dengan kebijakan Amerika, tak berani melakukan apapun yang dapat merugikan Israel.

Bahkan Palestina mengalami krisis energi dan minyak selama berpuluh-puluh tahun, tak seorangpun dari negara tersebut yang berani menyalurkan minyaknya ke Gaza. Nah, masihkah kita berharap pada negara-negara Timur-Tengah? Lalu dengan cara apalagi membebaskan Palestina dari gempuran terus menerus dari Israel, sementara negara-negara Timur Tengah ‘berkhianat’?.

Apakah sekedar membantu dengan harta, obat-obatan, makanan, diplomasi, negosiasi. Jawabnya tidak!, sekali lagi tidak!. Semua itu telah dilakukan sejak 40 tahun, dan tidak pernah berhasil mengatasi kelaparan, krisis minyak, dan membebaskan Palestina. Bahkan tidak kurang 30 resolusi telah dikeluarkan PBB tapi tidak memberikan efek sedikitpun.

Justru yang terjadi kaum Muslimin di negeri-negara Arab tidak memiliki tentara, pesawat tempur, dan tank-tank. Yang memiliki itu semua adalah Negara, bukan individu. Yang mana mereka (tentara, tank, pesawat tempur) hanya bergerak sesuai instruksi Negara. Sementara Israel didukung penuh oleh AS.

Sampai disini bisa pahami bahwa wajar saja jika Israel akan terus berjaya, dan setiap tahun kita hanya bisa menonton Gaza yang dibombardir, setiap tahun kita hanya bisa menggalang dana dan demonstrasi di jalan-jalan, setiap tahun kita hanya mengutuk dan berteriak. Mengapa?

Karena yang mereka butuhkan adalah mengusir Israel dari Palestina, dan itu hanya bisa terjadi jika seluruh negara-negara Muslim mengerahkan bala tentaranya. Maka benarlah perkataan para Mujahidin,“Palestina tidak akan pernah bebas, selama negara-negara Arab belum ditaklukkan.”

Disnilah relevansi hadirnya satu kemimpinan untuk seluruh kaum muslim yakni Khilafah. Era kekhalifahan Al-Mu’tashim Billah telah membuktikan bagaimana peran pemimimpin membebaskan kaum muslimin. Saat khalifah Al-Mu’tashim Billah mendengar ada seorang muslimah yang dilecehkan oleh pasukan Romawi di Amuria, Khalifah langsung bangkit dari tempat tidurnya dan mengerahkan puluhan ribu tentarannya.

Hanya untuk menyelamatkan seorang Muslimah, ujungnya telah tiba di Amuria sementara ekornya masih berada di Baghdad. Dengan izin Allah, Amuria ditaklukkan oleh para pasukan muslimin pada saat itu sehingga tidak ada yang berani lagi melakukan pelecehan terhadap kaum muslim.

Pada akhirnya, Israel hanya bisa dipaksa keluar dari Palestina jika jihad dikomandangkan oleh seluruh pemimpin kaum muslimin. Sedangkan AS hanya bisa dihentikan intervensinya jika negeri-negeri kaum muslim bersatu dalam satu kepemimpinan sebagaimana janji Allah Swt dalam Alqur’an surah an Nuur ayat 55.

“Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh- sungguh akan menjadikan mereka berkuasa dimuka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhaiNya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentausa. Mereka tetap menyembahkuKu dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku; dan barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, mereka itulah orang-orang yang fasik”

Di dalam Tafsir Qurthubiy juga disebutkan, bahwasanya Ibnu ‘Athiyah menyatakan, “Ayat ini merupakan janji Allah atas seluruh umat Islam tentang (kekuasaan) supremasi Islam atas seluruh penjuru dunia; seperti sabda Nabi saw, “Bumi telah dikumpulkan untukku, hingga aku menyaksikan timur dan baratnya. Dan sungguh ummatku akan menguasai bumi yang telah dikumpulkan untukku”. Ibnu ‘Athiyyah berkata, “Ayat ini merupakan janji kekuasaan atas seluruh kaum Muslim. Yang dimaksud dengan “istikhlaafuhum” adalah menjadikan mereka menguasai bumi dan menjadi penguasanya; seperti yang terjadi di Syam, Iraq, Khurasan, dan Maghrib”. Ibnu ‘Arabiy berkata, “Ayat ini merupakan janji umum dalam masalah nubuwwah, khilafah, tegaknya dakwah, dan berlakunya syariah secara umum” (Imam Qurthubiy, Tafsir al-Qurthubiy, juz 12, hal. 299-202).

Wallahu’alam bi Ash-shawab.