Editorial

The End Of Capitalism?

Oleh : Aba Muthiah.

Sejarah telah mencatat bahwa di dunia ini hanya dua ideologi yang diakui, yakni Sosialisme dan Kapitalisme, Islam tidak diakui karena hanya dipahami sebagai agama ruhiyah. Sosialisme telah mati secara tragis (suul khatimah)  1991 silam, tapi Kapitalisme masih tetap kokoh.

Sosialisme mati karena Ideologi ini melawan fitrah manusia, membatasi keinginan manusia. Wajar saja jika kehadirannya ditolak keras oleh pengikutnya sendiri. Bagaimana dengan Kapitalisme akankah suul khatimah menyusul kematian Sosialisme?.

Ideologi Kapitalisme memang masih kuat, selain belajar dari kegagalan Sosialisme juga mendapat dukungan dan diterapkan diberbagai negara, termasuk negara-negara yang penduduknya mayoritas muslim. Kapitalisme Dianggap belum ada ideologi penggantinya.

Benarkah demikian?. Akankah Kapitalisme tetap kokoh dan tak tergantikan?. Tidak!, mengapa?. Dalam sistem Kapitalisme Keadilan dan kesejahteraan hanya ilusi. Keadilan dan kesejahteraan hanya milik para pemilik modal saja. Sistem ini rapuh dan sangat bergantung dari mekanisme pasar.

Di negara kampium Kapitalisme seperti Amerika Serikat (AS) penganggurannya besar. Biro Statistik Tenaga Kerja AS  menyebutkan jumlah pengangguran yang kehilangan pekerjaan permanen naik hingga 345.000 orang pada September ke level tertinggi 7 tahun yakni 3,8 juta pengangguran (Bisnis.com, 5/10/2020).

Sejak Covid-19 lebih dari 20 juta orang AS kehilangan pekerjaan. Begitu juga dengan angka kemiskinan.  Diberitakan BBC (16/10/2020), hampir 8 juta orang Amerika telah jatuh miskin sejak Mei 2020. 

AS telah mengeluarkan US$ 3 triliun untuk meredam pergolakan ekonomi dan mendorong tingkat kemiskinan, nyatanya pengaruhnya  sesaat. Bahkan Pada September, tingkat kemiskinan mencapai 16,7% naik dari 15,3% pada Februari dan 14,3% pada Mei.

Beberapa perusahaan besar di AS juga akan melakukan PHK besar-besaran salah satunya Royal Dutch Shell Plc. Perusahaan minyak dan gas tersebut  akan melakukan PHK 9000  karyawan menyusul upaya penghematan di tengah penurunan harga minyak mentah. (Bisnis.com,30/9/2020)

Begitu juga dengan ketahanan lembaga keuangan AS semakin lemah. Laba perbankan di AS merosot hingga 69,9% menjadi US$ 18,5 miliar sepanjang kuartal I-2020. Dilansir Reuters (16/6/2020) hampir setengah bank di AS mengalami penurunan laba, sedangkan 7,3% malah menderita kerugian.

Bagaimana dengan Indonesia?. Awal Maret 2020, NPL bank perlahan terus menanjak dari bulan ke bulan. Tercatat, NPL gross meningkat jadi 2,77 persen pada Maret 2020.  Lalu, kembali naik menjadi 2,89 persen pada April, 3,01 persen pada Mei, dan 3,11 persen pada Juni 2020.

Berdasarkan sektor, NPL gross tertinggi ada di sektor pertambangan sebesar 4,96 persen, sektor perdagangan 4,59 persen, industri pengolahan 4,57 persen, dan konstruksi 3,84 persen. Sektor rumah tangga sebesar 2,32 persen, transportasi 2,05 persen, dan pertanian 1,77 persen.

Inilah fakta kegagalan Kapitalisme. Jika ini terus terjadi maka kematian Kapitalisme  (the end capitalism) hanya menunggu waktu saja.  Di antara sejarah kegagalan Kapitalisme adalah yang terjadi pada tahun 1866 di Inggris.
Bank of England sebagai pusat keuangan dunia saat itu diumumkan bangkrut.

Kemudian disusul oleh kegagalan investasi oleh Bank Barings di Argentina pada tahun 1890 yang memaksa Bank Sentral Inggris saat itu menanggulangi masalah likuidasinya yang mencapai 18 miliar UK poundsterling.

Kemudian sejarah kegagalan Kapitalisme sampai ke AS pada tahun 1929 yang dikenal dengan istilah “Black Thursday”. Peristiwa ini dipicu oleh spekulasi besar-besaran di pasar modal akibat munculnya industri-industri baru seperti broadcasting dan produksi mobil.

Kejadian ini memberikan dampak yang sangat buruk bagi perekonomian AS. Pada puncaknya, tahun 1932, nilai saham-saham telah ambruk sampai 90%. Pertumbuhan ekonomi merosot sampai 50%.

Kemudian angka pengangguran sampai sepertiga dari populasinya. Oleh karena itu sangat wajar jika Amerika memanfaatkan dengan sangat baik momen Perang Dunia II sebagai pengurang angka pengangguran.

Anehnya ketika IMF dan Bank Dunia ini bertindak sebagai dokter masalah keuangan negara-negara berkembang yang mengalami krisis seperti Indonesia di tahun 1997-1998. Resepnya hanya satu yaitu liberalisasi karena inilah ciri khas Kapitalisme.

Namun, saat ini ketika induk semang kapitalisme mengalami hal yang sama dengan negara-negara berkembang, bahkan lebih parah, mereka diam. Dan ketika Pemerintah AS menasionalisasi perusahaan-perusahaan bermasalah itu pun IMF dan Bank Dunia seakan tak punya suara.

Bukan AS namanya kalau tidak munafik, dan bukan
AS juga kalau tidak sombong. Tinggal menunggu kesadaran masyarakat dunia untuk menolak Kapitalisme sampai ke pintu-pintu rumah mereka dan memilih Islam sebagai satu-satunya Ideologi.

Bahkan ketika ISEFID (Islamic Economics Forum for Indonesia Development) mengadakan silaturahim di Kuala Lumpur bersama Profesor Asad Zaman dari International
Islamic University Islamabad Pakistan beberapa waktu lalu beliau menyebutkan bahwa keruntuhan hegemoni Barat sudah tiba masanya.

Asad Zaman yang juga berwarga negara AS itu mengatakan bahwa umumnya masyarakat Barat pendukung Kapitalisme saat ini telah kehilangan orientasi dalam mencari apa yang disebut kebahagiaan. Beliau mengatakan bahwa Kapitalisme telah mati sejak lama. Hanya saja banyak orang yang tidak sadar akan keadaan ini.

Umat Islam menjadi buta oleh kenikmatan rancangan Kapitalisme sehingga tidak sadar bahwa sesungguhnya sistem ini telah hancur. Tidak sadar kalau ada sistem terbaik yang dirancang khusus untuk rahmatan lil ‘alamin. Bukan hanya untuk umat Islam saja. Tetapi, untuk semua umat manusia.

Itulah Ideologi Islam. Ideologi yang telah terbukti memberi kesejahteraan dan keadilan tidak kurang 1.300 tahun lamanya. Inilah ideologi satu-satunya yang sesuai fitrah manusia karena berasal dari sang pencipta manusia, yakni Allah Swt. Bukan ideologi akal-akalan seperti Sosialisme dan Kapitalisme.

Wallahu a’lam bi ash shawab