Editorial

PENGHASILAN YANG DIBERKAHI Etika Bisnis Islam Assalim.id | Edisi #40

Oleh Pujo Nugroho

Assalim.id – “Wahai Rasulullah, mata pencaharian (kasb) apakah yang paling baik?” Beliau bersabda, “Pekerjaan seorang laki-laki dengan tangannya sendiri dan setiap jual beli yang mabrur (diberkahi).” (HR. Ahmad, 4:141, hasan lighairihi)

Kasb yang dimaksud dalam hadits di atas adalah usaha atau pekerjaan mencari rezeki. Asy-Syaibani mengatakan bahwa kasb adalah mencari harta dengan menempuh sebab yang halal. Sedangkan kasb thoyyib, maksudnya adalah usaha yang berkah atau halal. Sehingga pertanyaan dalam hadits di atas dimaksudkan “manakah pekerjaan yang paling diberkahi?”

Dari sini kita dapat mengambil pelajaran penting bahwa para sahabat tidak bertanya manakah pekerjaan yang paling banyak penghasilannya atau paling menguntungkan secara materi. Namun yang mereka tanya adalah manakah yang paling thoyyib (diberkahi).

Sehingga tujuan dalam mencari rezeki adalah mencari yang paling berkah, bukan mencari manakah yang hasilnya paling banyak, paling profit. Karena penghasilan yang banyak belum tentu barkah. Demikian penjelasan Syaikh ‘Abdullah bin Shalih Al-Fauzan dalam Minhah Al-‘Allam, 6: 10.

Ada dua kasb yang dikatakan paling diberkahi dalam hadits di atas. Yang pertama adalah pekerjaan dengan tangan sendiri. Hal ini dikuatkan pula dalam hadits yang lain,

“Tidaklah seseorang memakan suatu makanan yang lebih baik dari makanan yang ia makan dari hasil kerja keras tangannya sendiri. Karena Nabi Daud ‘alaihis salam dahulu bekerja pula dengan hasil kerja keras tangannya.” (HR. Bukhari, no. 2072).

Kedua, jual beli yang mabrur. Sebuah bisnis bidang perdagangan yang mengikuti kaidah-kaidah hukum syara’ dalam transaksinya.

Karena itu, pengusaha muslim orientasi bisnisnya adalah keberkahan. Keberkahan hanya didapat dengan ikhtiar bisnis yang halal dan diupayakan sendiri (bukan berpangku tangan).

Demikian mulianya Islam, menjaga muamalah di tengah masyarakat agar adil dan tidak saling menzalimi karena menginginkan keberkahan. Tidak saja keuntungan individu yang didapat tetapi juga menjadi sebuah sistem yang menjaga kemaslahatan umum. []

Related posts
Editorial

TIDAK CUKUP KECEWA PADA PEJABAT DAN POLITISI KAYA RAYA DI TENGAH PANDEMI, TAPI KECEWALAH JUGA KEPADA DEMOKRASI

Editorial Assalim.id | Edisi 75Oleh Pujo Nugroho Assalim.id – Setelah Komisi Pemberantasan…
Read more
Bengkel Pengusaha

KETIKA PENGUSAHA MENJADI PENGUASA, BELAJAR DARI UMAR BIN KHATTAB

Karena tak juga ada tanda-tanda serius untuk bertobat di negeri +62 ini, akhirnya muncul special…
Read more
Editorial

TIDAK CUKUP MENGGANTI DENGAN ISTILAH MALING UNTUK MEMBASMI KORUPTOR TAPI JUGA HARUS MENGGANTI SISTEM!

Editorial Assalim.id | Edisi 74Oleh Pujo Nugroho Assalim.id – Tulisan ini mengapresiasi…
Read more