Editorial

MENJADI PELOPOR KEBAIKAN Inspirasi Sahabat Nabi Assalim.id | Edisi #40

Oleh Pujo Nugroho

Assalim.id – Dari Jabir bin Abdillah radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata,

Kami pernah bersama Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam di pagi hari. Lalu datanglah satu kaum yang bertelanjang kaki, bertelanjang dada, berpakaian kulit domba yang sobek-sobek atau hanya mengenakan pakaian luar dengan menyandang pedang.

Umumnya mereka dari kabilah Mudhar atau seluruhnya dari Mudhar, lalu wajah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berubah ketika melihat kefakiran mereka. Beliau masuk kemudian keluar dan memerintahkan Bilal untuk mengumandangkan azan. Lalu Bilal mengumandangkan azan dan iqamah, kemudian beliau shalat. Setelah shalat beliau berkhutbah seraya membaca ayat,

“Hai sekalian manusia, bertaqwalah kepada Rabb-mu yang telah menciptakan kamu dari yang satu, dan daripadanya Allah menciptakan isterinya; dan daripada keduanya Allah memperkembangbiakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertaqwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturrahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu.” (QS. An-Nisa: 1)

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Hasyr: 18).

Ada seseorang yang telah bersedekah dengan dinar, dirham, pakaian, satu sha’ kurmanya sampai beliau berkata walaupun separuh kurma.

Jarir berkata, “Lalu seorang dari Anshar datang membawa sebanyak shurroh, hampir-hampir telapak tangannya tidak mampu memegangnya, bahkan tidak mampu.”

Jarir berkata, “Kemudian berturut-turut orang memberi sampai aku melihat makanan dan pakaian seperti dua bukit, sampai aku melihat wajah Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam bersinar seperti emas, lalu Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda,

“Barangsiapa melakukan suatu amalan kebaikan lalu diamalkan oleh orang sesudahnya, maka akan dicatat baginya ganjaran semisal ganjaran orang yang mengikutinya dan sedikitpun tidak akan mengurangi ganjaran yang mereka peroleh.

Sebaliknya, barangsiapa melakukan suatu amalan kejelekan lalu diamalkan oleh orang sesudahnya, maka akan dicatat baginya dosa semisal dosa orang yang mengikutinya, tanpa mengurangi dosanya sedikit pun.” (HR. Muslim, no. 1017)

Hadits di atas membicarakan bagaimana menjadi pelopor dalam sedekah, sehingga mendapatkan pahala dari sedekah yang dicontohkan dan pahala dari orang yang mengikuti. Maka setiap kebaikan berlaku seperti itu pula. Kebaikan apapun itu.

Ini adalah sebuah teladan yang harus kita ikuti. Mari sebagai pengusaha muslim kita menjadi pelopor kebaikan. Sebagai pengusaha banyak potensi yang kita miliki. Apakah itu harta, jejaring bisnis dan relasi, maupun potensi lainnya.

Kita manfaatkan untuk jalan dakwah Islam. Kita juga harus menjadi teladan di tengah staf dan karyawan yang bekerja pada kita.

Demikianlah Islam tidak saja mendorong setiap individu untuk melakukan kebaikan tetapi juga masyarakat secara luas agar kebaikan terjaga selalu ada di tengah masyarakat. Wallahua’lam. []