Editorial

Gelombang Resesi Dunia, Saatnya Tinggalkan Kapitalisme

aliansi pengusaha muslim Gelombang Resesi Dunia, Saatnya Tinggalkan Kapitalisme

Aliansi Pengusaha Muslim – Bank Dunia menyatakan pandemi virus corona (Covid-19) memicu resesi terburuk bagi negara maju sejak Perang Dunia Kedua. Ekonomi global diperkirakan menyusut sebesar 5,2% pada tahun ini, akibat dampak pandemi Covid-19.

Dampaknya pengangguran dan kemiskinan akan meningkat tajam. Bank Dunia, dalam laporan Prospek Ekonomi Global terbaru yang dirilisnya menyatakan bahwa pandemi memicu kenaikan dramatis dalam kemiskinan ekstrem di berbagai negara, termasuk negara-negara kaya.

Perkiraan saat ini menunjukkan bahwa 60 juta orang dapat didorong ke dalam kemiskinan ekstrem pada tahun 2020 dan perkiraan ini kemungkinan akan meningkat lebih lanjut, demikian seperti diungkap Presiden Kelompok Bank Dunia, David Malpass.

Demikianlah yang terjadi dengan ekonomi dunia. Pandemi dari virus yang tak nampak kasat mata ini melumpuhkan ekonomi dunia. Lalu, apakah setiap pandemi mematikan melanda ekonomi dunia juga akan lumpuh parah dan membutuhkan waktu pemulihan yang lama?

Sistem apapun jika dihantam pandemi penyakit yang mematikan akan terpukul. Masyarakat sebagai konsumen akan dipaksa atau terpaksa mengurangi aktivitasnya di luar rumah. Sisi konsumsi akan tertekan. Daya beli rumah tangga sebagai konsumen juga jauh menurun karena aktivitas bekerja dan pemasukan yang terbatas. Praktis aktivitas produksi dan distribusi juga jauh menurun. Apapun sistemnya jika kondisi seperti ini, ekonomi akan terganggu.

Namun gangguan pada sistem ekonomi kapitalisme tidaklah sederhana. Pukulan pada sistem kapitalisme akan lebih dalam dan membutuhkan biaya dan waktu yang lebih besar dan lama.

Dalam sistem ekonomi kapitalis, sektor ekonomi tidak hanya terbatas pada sektor riil, tetapi juga muncul sektor ekonomi non-riil. Perkembangan sektor non-riil ini merupakan pelebaran fungsi uang yang tadinya hanya sebagai alat tukar menjadi komoditas yang diperdagangakan. Karena itu ekonomi kapitalis disebut monetary based economy (ekonomi berbasis sektor moneter atau keuangan).

Karena berbasis bunga (riba), sistem moneter ini justru membahayakan sistem keuangan secara keseluruhan. Akan ada obligasi yang gagal dibayar (default) dan kredit macet. Jumlahnya pun akan  terus bertambah dari waktu ke waktu. Hal ini akan mempengaruhi sektor riil dan perekonomian secara umum. Dan fakta inilah yang terjadi.

Sektor non-riil juga dikembangkan oleh negara-negara kapitalis untuk melakukan investasi secara tidak langsung, yaitu melalui pasar modal dengan membeli saham-saham yang ada di pasar modal. Faktanya, nilai ekonomi non-riil seperti transaksi di lantai bursa saham melebihi nilai transaksi barang dan jasa.

Prof. Maurice Allais, peraih Nobel tahun 1997 dalam tulisannya, “The Monetery Condition of an Economiy of Market,” menyebutkan uang yang beredar di sektor non-riil tiap hari mencapai lebih dari 440 miliar US$; sedangkan disektor riil hanya sekitar 30 miliar US$ atau kurang dari 10%.

Inilah penyebab utama krisis keuangan global. Krisis inilah yang terjadi saat ini dan pada resesi-resesi sebelumnya. Bahkan tanpa disebabkan pandemi sekalipun. Dampaknya jutaan manusia kehilangan pekerjaan dan masuk ke dalam jurang kemiskinan.

Mestinya hal ini membuka mata kita bahwa sistem kapitalisme adalah sistem yang penuh cacat bawaan. Saatnya pula kita berpaling kepada sistem Islam yang jauh berbeda. Tidak dibangun sektor non-riil dan menolak riba. Sistem Islam lebih tahan dan cepat pulih jika mengalami guncangan. Wallahua’lam.[] Pujo Nugroho

Related posts
Fiqih Muamalah

Hukum Meminjamkan Uang Dengan Syarat Infak Dan Bea Administrasi

Diasuh Oleh: Ust M Shiddiq Al Jawi Aliansi Pengusaha Muslim – Tanya : Ustadz, apa hukumnya…
Read more
Hukum Bisnis

Masa Pandemi Corona, Kemungkinan Banyak Perusahaan Likuidasi

Aliansi Pengusaha Muslim – Di masa pandemi corona, kami dipercaya perusahaan untuk mendampingi…
Read more
Ulasan Utama

Resesi Terburuk Dalam 100 Tahun, Wajah Buruk Kapitalisme

Aliansi Pengusaha Muslim – Organisasi Kerja Sama dan Pengembangan Ekonomi ( OECD) memberikan…
Read more