Editorial

BENCANA SILIH BERGANTI, SAATNYA TERAPKAN SYARIAH..!

Oleh : Muhammad Ihsan
Sekjen ASSALIM

Innaa lillaahi wainnaa ilaihi rooji’uun. Bencana demi bencana menghantam negeri ini. Ketika Corona tidak kunjung mereda bahkan kasusnya semakin melonjak.

Tiba-tiba terjadi musibah jatuhnya pesawat Sriwijaya Air SJ 182, sontak membuat rakyat berdecak dan berduka. Belum selesai kesedihan, runtutan bencana seakan silih berganti. Banjir di Kalimantan Selatan, hingga gempa di Majene Sulbar, disusul banjir bandang yang terjadi di wilayah Gunung Mas Puncak Kab. Bogor.

Rentetan kejadian saudara Muslim kita silih berganti mulai dari 6 korban penembakan, kemudian dipenjarakannya Habib M. Rizieq Syihab, serta wafatnya beberapa Ulama besar negeri ini seperti Syeikh Ali Jaber, Habib Ali Assegaf, dan KH. Mahmudi Syukri serta ulama lainnya, membuat kita semakin bertambah sedih dan berduka.

Untuk itu mari kita doakan seluruh korban bencana ini semoga para korban yang meninggal husnul khotimah di ampuni segala dosanya dan diterima segala amalnya disisi Allah SWT. Aamiin.. Aamiin yaa Rabbal ‘aalamiin.

Dibalik bencana yang bertubi-tubi ini, kita sebagai umat Islam harusnya wajib mengambil hikmah dibalik kejadian ini dan mengevaluasi diri. Apa yang menjadikan semua kejadian ini bisa terjadi? Tentu ada sebab-akibatnya.

Kalau kita menelisik cara Rasulullah SAW dan sahabat mengevaluasi kejadian seperti ini. Bencana alam gempa bumi tercatat pernah terjadi dimasa kenabian dan kekhalifahan.

Suatu kali di Madinah terjadi gempa bumi. Rasulullah SAW lalu meletakkan kedua tangan beliau diatas tanah dan bersabda, “Tenanglah …belum datang saatnya bagimu.’’ Lalu, Nabi SAW menoleh kearah Para Sahabat dan bersabda, “Sesungguhnya Rabb kalian menegur kalian, maka buatlah Allah ridha kepada kalian!”

Sepertinya, Umar bin Khaththab RA mengingat kejadian itu. Ketika terjadi gempa pada masa kekhalifahannya, ia berkata kepada penduduk Madinah, “Wahai Manusia, apa ini? Alangkah cepatnya apa yang kalian kerjakan dari maksiat kepada Allah?. Andai kata gempa ini kembali terjadi, aku tak akan bersama kalian lagi!”

Seorang dengan ketajaman mata bashirah seperti Umar bin Khaththab bisa merasakan bahwa kemaksiatan yang dilakukan oleh para penduduk Madinah, sepeninggal Rasulullah dan Abu Bakar As-Shiddiq telah mengundang bencana.

Umar pun mengingatkan Kaum Muslimin agar menjauhi maksiat dan segera kembali kepada Allah. Ia bahkan mengancam akan meninggalkan mereka jika terjadi gempa kembali. Sesungguhnya bencana merupakan ayat-ayat Allah untuk menunjukkan kuasa-Nya, jika manusia tak lagi mau peduli terhadap ayat-ayat Allah, maka kenestapaan akan diperoleh.

Nah, saudaraku ketika itu di Zaman Umar bin khaththab saja risau akan ketidak ridhoan Allah SWT., padahal ketika itu Syariat Islam ditegakkan secara kaffah oleh penguasa dan rakyatnya, masih ada kekhawatiran terhadap dosa diantara mereka.

Bagaimana dengan sekarang?, dimana penguasa tidak lagi menerapkan syariah Islam sebagai rujukan, bahkan mengabaikannya. Padahal mayoritas rakyat dan pemimpinnya mengaku sebagai Muslim.

Bahkan ketika diseru oleh para ulama, diseru oleh para pengemban dakwah agar penguasa negeri ini menerapkan aturan syariah, malah pengemban dakwah ini dikriminalkan dan dibubarkan organisasinya.

Apakah masih tersisa alasan kita, agar Allah ridho dengan prilaku kita?. Bukankah ini momentum untuk kembali kepada penerapan Syariah Islam agar Allah kembali ridho kepada kita?. Wallahu a’lam bish showab. [MI]

Related posts
Ulasan Utama

“PAJAK ATAU PALAK” SIAPA UNTUNG SIAPA BUNTUNG ?

Agan Salim Sebagai negara yang mengadopsi sistem kapitalisme, maka “platform” pajak sebagai…
Read more
Editorial

TIDAK CUKUP KECEWA PADA PEJABAT DAN POLITISI KAYA RAYA DI TENGAH PANDEMI, TAPI KECEWALAH JUGA KEPADA DEMOKRASI

Editorial Assalim.id | Edisi 75Oleh Pujo Nugroho Assalim.id – Setelah Komisi Pemberantasan…
Read more
Bengkel Pengusaha

KETIKA PENGUSAHA MENJADI PENGUASA, BELAJAR DARI UMAR BIN KHATTAB

Karena tak juga ada tanda-tanda serius untuk bertobat di negeri +62 ini, akhirnya muncul special…
Read more