Editorial

Akankah Kita Menyerah Saja?

Oleh : Abah Salim

Sore itu, abah dibuat terkesima. Setelah lama tak jumpa, seorang kyai sepuh yang sangat tawadlu menyapa hangat memberi nasihat. Beliau sering menjadi penasihat para pengusaha yang total berhijrah. Dikutipnya kalam Allah, Surat Ar Ra’du ayat 11.

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum hingga mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap suatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya dan tidak ada pelindung bagi mereka selain Dia.”

Rasa prihatin tak terkira dari Beliau. Ada abai atau lebih tepatnya pengabaian pada umat, terlebih lagi dilakukan oleh sang pengelola umat. Berita-berita di media mengkonfirmasi itu semua. Pungkasnya, kita tidak akan pernah bisa keluar dari wabah pandemi ini, tidak akan pernah, jika kita tidak mau mengamalkan kalam Allah di atas. Jelas benar di situ ada faktor kita. Perubahan itu bergantung pada kita.

Jika kita terus acuh pada aturan Allah, tetap tidak mau kembali pada Allah, pandemi ini akan terus berlangsung. Acuh pada syariat yang mengurusi kehidupan individu bahkan hingga pada peri kehidupan muamalah. Negara pun terkesan abai. Situasi yang serba kompleks. Complex problem. Jadi, kalau pun berhenti, wabah ini tak akan pernah tuntas. Bahkan ada tambahan ‘bonus’ yang datang silih berganti. Apa itu? Musibah dimana-mana. Tak pernah terbayangkan sebelumnya ada banjir di hulu sungai, sekarang itu terjadi. Jika di hulu sudah rusak parah apatah lagi di hilir. Akhirnya kita malah asyik menyalahkan hujan ketimbang bertobat. Doa para ulama pun seperti tak lagi diijabah. Di sinilah tumpah keprihatinan Beliau. Ayo resapi ayat tadi!

Betul Kyai. Sepakat. Perubahan itu mesti dari kita. Kita semua ini memang hamba Allah. Sudah semestinya sikap seorang hamba itu ya tunduk, taat dan patuh kepada tuhannya. Bukan abai, acuh bahkan memusuhi tuhannya! Apalagi kita makan, minum dan tinggal di bumiNya.

Penguasa berdosa karena mengelola rakyatnya dengan aturannya sendiri, tak mau pakai aturan Allah. Sumberdaya alam yang seharusnya menjadi public property malah diberikan pada individu swasta dan asing. Riba yang harusnya dilenyapkan malah dilegalkan, bahkan jadi nadi perekonomian nasional. Hukum-hukum Islam yang harusnya diterapkan dalam kehidupan bermuamalah, ditanggalkan, ditinggalkan. Masih banyak contoh lainnya. Penguasa tidak khawatir berdosa kepada Allah, Dzat Yang Mengizinkan mereka memerintah rakyatnya. Kalau tidak juga segera bertobat, mereka akan jatuh menjadi dzalim, fasik atau bahkan kafir! Ya Allah!

Tokoh-tokoh ikut berdosa karena menolak amar ma’ruf nahi munkar. Yang ada malah bahu membahu membantu penguasa agar tetap status quo di jalan kemaksiatan. Jika ada seruan kembali ke jalan syariat, mereka menolak dengan dalih khawatir distempel radikal, fundamentalis. Tapi tidak khawatir berdosa kepada Allah, Dzat Pencipta mereka. Kalau tidak segera bertobat, mereka juga akan jatuh menjadi dzalim, fasik atau bahkan kafir! Allah Karim!

Rakyat akhirnya ikut berdosa karena diperlakukan sedemikian rupa. Teladan ketaatan dan kebaikan sudah menghilang. Hasilnya, rakyat harus berhadapan sendiri dengan keruwetan hidup sehari-hari. Rakyat boleh jadi masih khawatir berdosa kepada Allah, tapi apa boleh buat, rasanya tak ada pilihan! Yang haram saja susah apalagi yang halal, begitu kalimat yang sering mengemuka. Malang betul nasibnya.

Penguasa berdosa. Tokoh-tokoh berdosa. Rakyat juga akhirnya ikut berdosa. Lalu pengusaha bagaimana? Hemm… Pengusaha yang tipikalnya setali tiga uang dengan penguasa dan tokoh yang menolak syariat berdosa juga! Apalagi jika ikut terlibat memakan riba, menjalankan bisnis yang haram, mendukung kebijakan yang salah secara syariat, bahkan berkolaborasi dengan penguasa untuk kepentingan bisnis yang haram ! Sudah amat banyak contoh kolaborasi yang salah itu. Media pun sudah tak sungkan lagi memberitakannya. Dari pembuatan peraturan hingga praktek di lapangan. Nah, pengusaha model begini, rasanya sudah tak punya rasa khawatir kepada Allah. Ini sudah menjadi resiko bisnis yang diambilnya! Artinya resiko menjadi dzalim, fasik atau bahkan kafir sudah menjadi kalkulasi mereka. Astaghfirullahal adzim !

Kalau semua sudah begini, ingatlah pesan Ibrahim bin Adham, salah satu ulama terkemuka yang hidup pada abad ke-7 Masehi,

“Apakah pantas jika kamu makan dari rizkiNya dan tinggal di bumiNya, sedang kamu bermaksiat kepadaNya?”

Sebuah pesan yang pedas, cadas, dan lugas !

Truly Muslempreneur,

Jelas sudah, wabah pandemi dengan tambahan musibah yang datang silih berganti sudah menjadi tanda betapa Allah sudah sangat rindu kita berubah dari maksiat menjadi taat. Perubahan itu harus dimulai dari kita sendiri. Perangkat perubahan juga sudah Allah berikan pada kita semua secara fitrah. Kita harus tundukkan akal dan hati kita agar bisa menerima hidayah taufiqNya. Kita harus segera berhijrah! Jangan siakan kesempatan bertobat yang masih ada di depan kita. Sebelum semuanya terlambat. Jadi, akankah kita menyerah ? Tidak ! Bukan itu yang dimaui ! Kita harus segera putar haluan dari maksiat menjadi taat, hijrah dari sekuler menjadi kaffah!

Khusus pengusaha, dengan kredo Bisnis Ngaji Dakwah, kita bawa diri dan keluarga kita, juga umat ini hijrah menuju Islam yang kaffah. Bi idznillah wa bi nashrillah wa bi ridhollah kita pasti bisa!

Related posts
Ulasan Utama

SURAMNYA APBN, BUMN, DANA HAJI HINGGA PPN “SAPU JAGAT”

Agan Salim Dalam sejarah peradaban, resesi ekonomi terjadi karena banyak hal. Mulai disebabkan…
Read more
Fokus Ekonomi

SADIS, SEMBAKO DAN SEKOLAH DIPAJAKI. SAMPAI KAPAN RAKYAT MENDERITA?

Oleh M Azzam Al Fatih Secara mendadak pemerintah mewacanakan pertambahan pajak nilai (PPN) dari…
Read more
Editorial

BEGINI LHO, KEMULIAAN DAN KEAGUNGAN ISLAM DALAM PELAYANAN IBADAH HAJI

Oleh : M Azzam Al Fatih Sebelum berbicara panjang bagaimana kemuliaan Islam dalam pelayanan…
Read more