Bengkel Pengusaha

Muslimpreneur Sejati Tunduk, Taat dan Patuh Pada Syariat… Sebuah Energizer

aliansi pengusaha muslim Indonesia Muslimpreneur Sejati Tunduk Taat dan Patuh Pada Syariat Sebuah Energizer

Oleh : Abah Salim.

Abah, kita perlu semacam ‘energizer’ nih! Begitu sapaan akrab yang hinggap pagi ini. Energizer ? Oooh itu tulisan pendek pengingat dan penyemangat yang hadir tiap hari tanpa jemu di hape jadul abah. Mengapa perlu energizer? Yup, setelah trio tulisan bernada ‘bebal’ sampai 3 jilid, rasanya hati dan pikiran kita serasa di-recharge. Bayangkan, edisi 030 – Bebal ! Mau Sampai Kapan ? Lalu edisi 031 – Bebal ! Mau Sampai Kapan ? (Jilid 2). Dipungkasi edisi 032 – Jangan Sampai Su’ul Khatimah Seperti Fir’aun, Haman, Bal’am dan Qorun ! (Bebal ! Mau Sampai Kapan? – Jilid 3). Beuh… ibarat gelas kotor dan berisi minuman yang kotor pula, dicuci bersih lagi mengkilap hingga bisa digunakan kembali hanya untuk minuman yang halal lagi thoyyib. Setelah kembali normal sesuai fitrah lagi, gelas ini perlu dijaga agar selalu bersih. Untuk membantu menjaganya, energizer perlu dihadirkan. Begitulah.

Trully Muslimpreneur,

Kita mesti mulai dari jati diri kita. Hakikat diri kita. Orang barat menyebutnya way of life alias worldview. Kita ini hamba Allah !

‘Kewajiban pertama bagi seorang mukallaf (orang yang sudah terkena taklif hukum, baligh) adalah berfikir dan mencari dalil untuk ma’rifat kepada Allah Ta’ala’. Imam Syafi’i

‘Barangsiapa yang memikirkan penciptaan dirinya sendiri, tahulah dia bahwa dirinya hanyalah diciptakan dan persendiannya dilenturkan semata-mata untuk melakukan peribadatan (kepada Allah Swt).’ Abu Qatadah ra

‘Seorang Muslim yang mengklaim sebagai hamba Allah mesti menyadari bahwa (1) apa yang ada pada dirinya bukanlah miliknya, tetapi milik Allah; (2) tunduk, patuh dan tidak pernah membantah setiap perintah Allah; (3) tidak membuat aturan sendiri kecuali aturan yang telah Allah tetapkan untuk dirinya.’ Ja’far Ash-Shaddiq

‘Sebenar-benarnya takwa adalah mentaati Allah tanpa bermaksiat kepada-Nya, mengingat Allah tanpa lalai dari-Nya dan bersyukur atas nikmat-nikmat Allah, tanpa kufur dari-Nya.’ Ibnu Mas’ud ra.

‘Hakikat takwa adalah beramal ketaatan kepada Allah dengan penuh keimanan dan ihtisab (mengharap pahala) dalam melaksanakan perintah maupun meninggalkan larangan. Melaksanakan apa yang diperintahkan Allah dengan penuh keimanan terhadap amal tersebut dan dengan pembenaran sepenuhnya akan janji Allah (bagi yang melaksanakan perintah-Nya akan mendapatkan balasan). Dan meninggalkan apa yang dilarang Allah dengan penuh keimanan terhadap larangan tersebut diiringi rasa takut terhadap ancaman-Nya.’ Ibnul Qoyyim al Jauziyah

Trully Muslimpreneur,

Karenanya, kita mesti menjauh dari sifat sombong. Sifat turunan dari setan laknatullah. Karena inilah penyebab kita menolak untuk kembali pada fitrah kita, yakni tunduk, taat dan patuh pada seluruh aturan Allah Swt, Dzat Pemilik kita…

‘Bagaimana mungkin manusia bisa bersifat sombong sementara dalam dirinya terdapat 1-2 kilogram kotoran yang bau.’ Imam al Ghozali

‘Barangsiapa yang mengingkari apa yang diturunkan Allah, sungguh dia telah kafir. Dan barang siapa mengakuinya namun tidak berhukum dengannya, maka dia adalah dzalim-fasik.’ Ibnu Abbas ra

Trully Muslimpreneur,

Seringkali kita dilanda rasa letih, lemah, lesu dan lelah dalam meniti jalan ketaatan. Teruslah berjalan. Jangan pernah berhenti. Sekalipun banyak godaan menghadang langkah kita. Karena kita sudah berada di jalan yang benar.

‘Bila kita merasa letih karena berbuat kebaikan, maka sesungguhnya keletihan itu akan hilang dan kebaikan akan kekal. Bila kita bersenang-senang dengan dosa, kesenangan itu akan hilang dan dosa akan kekal.’ Umar bin Khattab ra

‘Ketika engkau sudah berada di jalan yang benar menuju Allah, maka berlarilah. Jika sulit bagimu, maka berlari kecillah. Jika kamu lelah, maka berjalanlah. Jika itupun tidak mampu, merangkaklah. Namun, jangan pernah berbalik arah atau berhenti.’ Imam Syafi’i

‘Apabila engkau melihat Allah memberi kepada seorang hamba apa yang dia senangi dari dunia (padahal) dia di atas kemaksiatan-kemaksiatannya, sesungguhnya hal tersebut hanyalah istidraj (pembiaran agar semakin larut dalam dosa).’ HR Ahmad, Ibnu Jarir, dan lainnya.

Sungguh, terus berada di jalan ketaatan dan pusaran kebaikan adalah kenikmatan yang amat sangat luar biasa!

‘Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?’ QS. Ar Rahmaan : 13, 16, 18, 21, 23, 25, 28, 30, 32, 34, 36, 38, 40, 42, 45, 47, 49, 51, 53, 55, 57, 59, 61, 63, 65, 67, 69, 71, 73, 75, 77

Truly Muslimpreneur, jadi … tunggu apalagi?

Allahumma sholli ‘ala Muhammad…

Ya Allah, karuniakanlah kami hati yang selalu bersyukur, suami/istri yang sholih/sholihah, anak-anak yang sholih dan sholihah, lingkungan yang kondusif bagi iman, harta yang halal, semangat memahami agama dan umur yang barakah…

Ya Allah, kembalikanlah kemuliaan Islam dan Umatnya sebagaimana yang telah Engkau janjikan dan jadikan kami pengusaha muslim sebagai orang-orang yang beramal ikhlas untuk mengembalikannya…

Aamiin allahumma aamiin

Truly Muslimpreneur,

Jelas sudah hanya Islam kaaffah jalan keselamatan hakiki bagi kita semua. Yuk segera bertobat dan kembali ke jalan yang benar, sebelum semua terlambat. Tetaplah dalam koridor Bisnis, Ngaji dan Dakwah!

Barakallahu fikum