Bengkel Pengusaha

Kala Benci Berubah Jadi Rindu

aliansi pengusaha muslim Kala Benci Berubah Jadi Rindu

Aliansi Pengusaha Muslim Benci. Ini kata yang tepat untuk menjelaskan situasi hari ini yang dirasakan Abah. Ya, benci. Ada sebagian kita yang mengaku Muslim tapi bersikap benci pada pada Islam, benci pada syariatnya. Benci pada sebagiannya bahkan benci pada keseluruhannya. Padahal dia (mengaku) Muslim. Beuh!

Seperti balon, benci itu juga berbeda-beda warnanya. Ini kesimpulan abah dari pergaulan lintas profesi dan kedudukan. Bukan hanya pengusaha lho!

Bencinya orang awam. Biasanya karena kurang informasi yang benar tentang syariat, kadung percaya pada opini yang mendiskreditkan syariat. Syariat itu kejam karena ada hukum potong tangan buat pencuri, syariat itu tidak manusiawi karena ada hukum rajam buat pelaku zina, syariat itu menyeramkan karena menghukumi pelaku riba dengan lebih dari 70 jenis dosa dan dosa yang paling ringan adalah seperti dosanya orang yang menzinahi ibu kandungnya sendiri, dll.

Bencinya kaum (yang katanya) intelektual alias tidak awam. Biasanya karena kurang informasi yang benar tentang syariat ditambah lagi takut kehilangan sesuatu jika berpindah pada syariat. Bisa gelar, jabatan, harta dan dunia. Tersandera hidup di zona nyaman, trapped in a comfort zone, meski tahu bahwa ada yang salah, ada yang tidak beres.

Bencinya kalangan non Muslim. Biasanya karena kurang informasi yang benar tentang syariat, kadung percaya pada opini yang mendiskreditkan syariat ditambah lagi takut kehilangan sesuatu jika berpindah pada syariat. Bisa gelar, jabatan, harta dan dunia. Padahal dalam Surat Al-Kafirun, jelas disampaikan “Untukmu, agamamu. Untukku, agamaku.” Islam tidak akan mengganggu ibadah kalian. Yang ada kalian malah dilindungi.

Dari ketiganya ada 3 kesimpulan, yaitu (1) kurang informasi yang benar tentang syariat, (2) kadung percaya pada opini yang mendiskreditkan syariat ditambah lagi (3) takut kehilangan sesuatu jika berpindah pada syariat.

Truly Muslimpreneur,

Pertanyaannya, kalau dimatrikskan, adakah sosok yang merepresentasikan sosok dengan ketiga ciri di atas? Sepertinya banyak. Apakah ini gejala kekinian? Jawabnya tidak juga. Ini hanya pengulangan saja dari kisah masa lalu. Hanya beda waktu dan tempat saja. Dan, adakah contohnya sosok pengusaha? Ada! Mari kita cari sosok yang mondial dan fenomenal serta tentu saja sangat dikenal sejarah. Yap, Umar bin Khattab, pengusaha papan atas yang kafir, pembenci nomor satu dan bahkan terang-terangan ingin membunuh Nabi SAW agar menghentikan dakwahnya. Jejak bisnisnya tak perlu diragukan lagi. Dalam sebuah catatan, Umar diketahui pernah memiliki 70.000 properti bernilai triliunan rupiah saat ini.

Lantas bagaimana bisa kebencian yang sudah di ubun-ubun itu berubah menjadi kecintaan yang luar biasa? Kisahnya bisa didalami di sirah tentang Beliau. Dalam tulisan ini, abah mau sampaikan yang sering luput dari perhatian kita. Apa itu? Doa, dakwah dan hidayah.

Berubahnya Umar bin Khattab al-‘Adi al-Quraisy menjadi pemeluk Islam adalah jawaban Allah atas doa Rasulullah SAW. Sebab di awal kenabiannya, Muhammad SAW selalu berdoa agar Allah memperkuat Islam dengan Abu Jahal atau Umar bin Khattab.
“Ya Allah, perkuat Islam dengan Abul Hakam bin Hisyam (Abu Jahal) atau Umar bin Khattab.” Begitulah doa Rasulullah SAW seperti dikutip dari Sirah Nabawiyah karya Abdul Hasan ‘Ali Al-Hasani An-Nadwi.

Saat itu Umar ingin menemui dan membunuh Nabi SAW agar dakwahnya berhenti total! Umar tahu Rasulullah SAW dan para sahabat sedang berada di bukit Shafa. Maka dengan pedang terhunus saking bencinya, Umar bergegas menuju bukit itu.

Qodarullah, Allah Swt pertemukan Umar dengan Nu’aim bin ‘Abdullah yang sudah memeluk Islam lebih dulu. Kepada Nu’aim, Umar menyampaikan lugas penuh benci, “Aku hendak menemui Muhammad, orang yang telah menimbulkan perselisihan di antara kaum Quraisy dan menganggap bodoh mimpi-mimpi mereka. Ia juga mencela agama dan mencerca tuhan-tuhan mereka. Karena itu aku akan membunuhnya!”

Nu’aim pun tanpa sungkan mengingatkan Umar agar mengurusi lebih dulu saudara perempuannya Fatimah binti Khattab sebab ia juga telah masuk Islam mengikuti ajaran Rasulullah SAW.
Mendengar itu, Umar pun balik badan langsung menuju kediaman adik perempuannya, Fatimah dan suaminya Sa’id bin Zaid. Didapatinya sayup-sayup bacaan Qur’an Fatimah. Sejumlah sumber menyebut yang sedang dibaca Fatimah dan Sa’id adalah Surat At-Thaha. Saat tahu ada Umar yang datang, Fatimah dan Sa’id menyembunyikannya.

Umar yang tinggi besar itu mencengkeram Said, “Aku telah diberitahu bahwa kalian telah menjadi pengikut agama Muhammad.” Fatimah bermaksud membela suaminya, namun Umar memukulnya hingga berdarah. Setelahnya, Umar menyesal. Setelah berhasil menguasai emosinya, dengan suara tak lagi meninggi dia meminta agar Fatimah dan Sa’id menunjukkan lembaran Qur’an yang baru saja mereka baca.
“Aku ingin melihat apa yang dibawa Muhammad,” kata Umar.
Sa’id dan Fatimah pun kemudian menyerahkan lembaran Surat at Thaha kepada Umar. “Sungguh indah kata-kata ini. Sungguh mulia kata-kata ini,” kata Umar setelah membacanya. Hidayah taufik tampak menghampirinya. Umar pun tak menampiknya karena telah dicampakkannya jauh-jauh rasa sombong dan benci yang pernah ada sebelumnya, demi mendengarkan lantunan kebenaran Al Qur’an yang didengarnya.

Tak berpanjang kata, Umar segera bergegas menuju bukit Shafa. Di depan Nabi SAW dan para sahabat, Umar pun menyatakan diri masuk Islam. Allahu Akbar ! Takbir berkumandang membelah alam raya. Doa Nabi SAW diijabah Allah Swt. Sejak itu Umar menjadi salah satu sahabat terdekat Rasulullah. Pembantu dan Penjaga Rasulullah SAW. Umar pun kelak menjadi Khalifah ke-2 setelah Abu Bakar Shiddiq.

Masya Allah, ketika benci berbalik jadi rindu. Ketika benci, dengan idzin dan pertolongan Allah, berubah menjadi pembela Islam terkemuka.

Di balik kisah perubahan dari benci menjadi rindu, ada penjelasan yang tuntas tentang Islam yang kaaffah. Ada dakwah penuh kesungguhan yang dilakukan untuk memberikan penjelasan. Ada teruntai doa yang tulus kepada Allah, Dzat Penggenggam akal, hati dan lisan. Ada hidayah taufik yang hanya bisa diterima oleh mereka yang sungguh-sungguh mengharapkannya, yaitu yang mencampakkan rasa sombongnya untuk menerima kebenaran Islam.

Truly Muslimpreneur,

Tetaplah dalam koridor Bisnis, Ngaji dan Dakwah! Karena ada masih banyak pengusaha di luar sana yang perlu pertolongan kita untuk mengubah bencinya menjadi rindu, menjadi pembela dan penegak Agama Allah ! Agar hidupnya terarah penuh berkah. Bencinya menjadi ‘benar-benar cinta’.

Barakallahu fikum

@bah Salim