Bengkel Pengusaha

HIJRAH, LANGKAH MULIA CALON PENGHUNI SURGA

Nafsiah Pengusaha Assalim.Id | Edisi 72
Oleh: Bung Dady

Assalim.id – Sahabat Muslimpreneur yang berbahagia, Allah Subhaanahu wa Ta’aala berfirman dalam sebuah ayat yang mulia,
“Sesungguhnya penghuni Surga pada hari itu bersenang-senang dalam kesibukan (mereka)”. [TQS. Yaasiin: 55]

Sahabat Muslimpreneur yang budiman, sudah seberapakah bekal kita siapkan, guna kehidupan pasca dunia ini?

Masihkah kita terlena oleh bisikan setan yang durjana? Padahal kelak ia akan berlepas diri dari tanggung jawab yang mana telah sesatkan anak-cucu Nabi Adam.

Sahabat Muslimpreneur, masih dalam suasana Muharam 1443 H kini. Mari ambil hikmah hijrah yang ditunaikan Baginda Nabi Muhammad dan para Shahabat. Yang mana beliau-beliau merupakan Para Ahli Surga yang mulia.
Hijrah merupakan peristiwa besar dalam sejarah peradaban Islam. Inilah argumen mengapa hijrah disepakati sebagai awal penanggalan kalender Hijriyah atas usul Khalifah Umar bin al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu.

Hijrah menjadi tonggak tegaknya Islam di muka bumi ini. Melalui hijrah, Islam menjadi kekuatan besar yang menebarkan rahmat ke seluruh alam.

Sangat berbeda dengan sebelumnya, selama 13 tahun di Makkah, dakwah Islam menemui kesukaran bahkan jalan buntu.

Caci-maki hingga penganiayaan diarahkan pada Baginda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallaam dan para shahabat beliau. Hal ini sempat membuat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berduka, hingga turun ayat yang menghibur beliau,
“Sungguh telah didustakan pula para Rasul sebelum kamu. Lalu mereka sabar atas pendustaan dan penganiayaan (yang dilakukan) terhadap mereka, sampai datang pertolongan Allah kepada mereka. Tak ada seorang pun yang dapat mengubah kalimat-kalimat (janji-janji) Allah. Sungguh telah datang kepadamu sebagian dari berita para Rasul itu”. [TQS al-An’am (6): 34].

Sahabat Muslimpreneur sekalian, Hijrah adalah pengorbanan. Selain harus menempuh perjalanan yang berat dengan jarak lebih dari 400 km, Kaum Muslim
menghadapi dua ujian dalam berhijrah.
Pertama, ujian keimanan. Kaum Muslim saat itu harus meninggalkan negeri asal mereka, harta benda, tempat tinggal bahkan keluarga mereka.

Mereka berpindah ke negeri yang di sana tidak ada sanak kerabat.
Mereka pun tidak dijanjikan akan mendapat tempat tinggal baru atau mata pencaharian baru sebagai ganti harta yang mereka tinggalkan di Mekkah. Hanya bermodalkan keyakinan pertolongan Allah Subhanahu wa Ta’aala lah mereka berhijrah.

Allah Subhaanahu wa Ta’ala pun memberikan pujian dan pahala berlimpah kepada Kaum Muhajirin. Sebagaimana di abadikan Allah Ta’aala dalam Al Qur’an,
“Orang-orang yang berhijrah di jalan Allah, kemudian mereka dibunuh atau mati, benar-benar Allah akan memberi mereka rezeki yang baik (Surga). Sungguh Allah adalah sebaik-baik Pemberi rezeki”. [TQS. al-Hajj (22):58]

Yang kedua, kaum Muslim yang berhijrah menghadapi ujian pengorbanan dan penentangan dari kaumnya. Zainab binti Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, misalnya. Ia harus rela berpisah dengan suaminya, Abu al-Ash bin Rabi, yang masih musyrik dan menolak ikut berhijrah. Keluarga suaminya juga menghadang Zainab yang tengah hamil empat bulan hingga dirinya terjatuh dan mengalami keguguran. Setelah pulih dari lukanya, Zainab kembali berangkat berhijrah meninggalkan suaminya.

Sahabat lainnya, yakni Suhaib ar-Rumiy radhiyallahu ‘anhu, beliau mengorbankan harta yang di bawa dari rumahnya untuk diberikan kepada kaum musyrik yang menghadang dirinya di perjalanan, ketimbang ia kembali lagi ke Makkah.
Sahabat Muslimpreneur yang shalih, Hijrah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam ke Madinah bukanlah karena beliau ingin menghindar dari kesulitan demi kesulitan yang menghadang dakwah di Makkah. Bukan karena itu. Namun, beliau menyadari bahwa masyarakat Makkah berpikiran dangkal, bebal, dan berkubang dalam kesesatan. Karena itu beliau melihat bahwa dakwah harus dialihkan dari kondisi masyarakat semacam ini ke kondisi masyarakat yang kondusif dan siap menerima Islam.

Allah subhanahu wa Ta’ala lalu memberikan pertolongan dengan kedatangan orang-orang suku Aus dan Khazraj dari Yatsrib (Madinah). Dua kabilah ini terkenal dengan kekuatannya karena terbiasa berperang. Negeri mereka pun memiliki posisi geostrategis yang luar biasa. Terletak di jalur perdagangan antara Makkah dan Syam.

Di Madinah, Rasulullah berhasil membangun negara Islam pertama di dunia. Menyatukan berbagai suku dan mengikat perjanjian
dengan kaum musyrik dengan Piagam Madinah. Dan, di Madinah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjalankan syariah Islam secara kaffah dengan struktur pemerintahannya. Menyebarkan Islam ke seluruh penjuru jazirah Arab dengan dakwah dan jihad fi sabilillah. Dan sistem pemerintahan yang dirintis Baginda Rasul terus dilanjutkan Para Shahabat hingga Kaum Muslim setelahnya. Terakhir kekhilafahan Islam berpusat di Istanbul Turki yang runtuh 3 Maret 1924.

Inilah hijrah, sahabat Muslimpreneur. Peristiwa yang memberikan keteladanan dan pelajaran penting. Betapa perubahan masyarakat menuju tatanan yang penuh rahmat dan keadilan tidak mungkin terjadi tanpa Islam dan tanpa pengorbanan. Ingatlah, kemenangan dan perubahan besar hanya bisa terwujud karena pengorbanan yang besar di jalan Allah.

Yuk sahabat Muslimpreneur, berlomba dalam kebaikan, amal shalih dan segenap ketaatan pada Ar Rahmaan! Karena kita tidak kapan ajal kita disampaikan, semoga kita bisa tinggalkan ‘atsar (bekas-bekas) mulia yang bisa menjadi aliran pahala, walau kita kelak tlah tiada di dunia. Afwan jiddan jika ada kekhilafan, wallaahu a’lam.

Related posts
Editorial

TIDAK CUKUP MENGGANTI DENGAN ISTILAH MALING UNTUK MEMBASMI KORUPTOR TAPI JUGA HARUS MENGGANTI SISTEM!

Editorial Assalim.id | Edisi 74Oleh Pujo Nugroho Assalim.id – Tulisan ini mengapresiasi…
Read more
Fokus Ekonomi

PAJAK DALAM PANDANGAN ISLAM

Fokus Ekonomi Assalim.id | Edisi 73Oleh: M Azzam Al Fatih Asaalim.id – Pajak seolah menjadi…
Read more
Fokus Ekonomi

UTANG MEROKET, KESEJAHTERAAN TAK TERWUJUD, SAMPAI KAPAN?

Oleh : M Azzam Al Fatih Ekonomi merupakan hal penting dalam sebuah negara maupun organisasi.
Read more