Bengkel Pengusaha

DERITA TAK BERTEPI DI NEGARA KORPORASI

Saat jeda sejenak bada tarawih, secangkir kopi pahit yg sedang nikmat diseduh tetiba keluar dengan tak beraturan alias rada ‘muncerat’. Kenapa? Tetiba abah ditanya. Negara korporasi? Apa itu Abah? Masya Allah malam yg tenang dan damai berubah jadi penuh kriuk di kepala. Sungguh, ini pertanyaan khusus yg membutuhkan kamus khusus ! Abah musti buka kamus !

Baiklah.
Dalam kamus wikipedia, negara korporasi itu suatu sistem pemerintahan dimana perusahaan-perusahaan dagang dan profesi merupakan landasan dari masyarakat… dan negara-negara korporasi yg didirikan hingga kini sesungguhnya tak lain dari kediktatoran yg memiliki struktur korporasi. Condong menjurus pada kediktatoran atau penyalahgunaan kekuasaan untuk kepentingan pribadi dalam perusahaan. Nah kesimpulan sederhananya, negara dikelola selayaknya korporat. Negara menjadi instrumen kepentingan bisnis pengelolanya atau kepentingan pihak lain yg memiliki relasi dengan penguasa. Waduh !

Ada korporasi ada korporatokrasi. Apa itu abah?

Masih di wikipedia, Korporatokrasi (pemerintahan perusahaan) adalah bentuk pemerintahan dimana kewenangan telah didominasi atau beralih dari negara kepada perusahaan-perusahaan besar sehingga petinggi pemerintah dipimpin secara sistem afiliasi korporasi (perusahaan). Proses privatisasi perusahaan publik umumnya menjadi permulaan bentuk pemerintahan ini, sebab negara kehilangan kewenangan peraturan dalam ekonomi dan pelayanan publik oleh karena lembaga bisnis yg berperan besar pada kebijakan. Nah kesimpulan sederhananya sama saja, negara dikelola selayaknya korporat. Negara menjadi instrumen kepentingan bisnis pengelolanya atau kepentingan pihak lain yg memiliki relasi dengan penguasa. Waduh !

Itu definisinya berdasarkan kamus. Secara praktis gimana?

Nah, istilah korporatokrasi digunakan oleh John Perkins dalam pengakuan di bukunya yg berjudul Confessions of an Economic Hitman (2004) yg legend itu. Bang John menggunakan diksi ini untuk menggambarkan betapa dalam rangka membangun imperium global, berbagai korporasi besar, bank, dan pemerintahan bergabung menyatukan kekuatan finansial dan politiknya untuk memaksa masyarakat dunia untuk mengikuti kehendak mereka. Utang dan pinjaman luar negeri yg ribawi menjadi salah satu perangkap dan sekaligus senjata mautnya! Ngeri !

Abah, definisinya masih belum sederhana euy !

Baiklah. Sederhananya yg paling sederhana begini. Kalau negara mengurusi hajat hidup rakyatnya, itu memang sudah semestinya. Karena negara memang ditakdirkan untuk itu! Ini negara normal!

Nah, kalau negera mengurusi kepentingan bisnis pengelolanya atau mengurusi kepentingan bisnis pihak lain atau malah menjadi alat bisnis pihak lain atau malah menjadikan semua instrumen layanan menjadi berbayar seperti bisnis, semua layanan publik dikapitalisasi, maka ini jelas penyimpangan. Nah ini juga definisi paling sederhana praktek negara korporasi atau korporatokrasi. Ini jelas bukan negara normal! Karena bukan itu tujuan didirikannya suatu negara.

Usut punya usut, sistem ini ternyata juga berasal dan pengembangan kreatif radikal dari kapitalisme sekulerisme untuk memaksimasi penguasaan sumberdaya dunia! Juga sebagai tambal sulam agar tetap bisa bertahan hidup! Pantesan ambyar !

Karena sistem ini berasal dari kapitalisme yg dibuat oleh akal manusia yg terbatas dan sudah pasti bertentangan dengan aturan Allah Swt, maka semua hal tentangnya pastilah bersifat buruk dunia akhirat. Kalaulah ada yg dianggap baik, sudah pasti semu! Setiap masalah selesai, maka pasti akan muncul masalah baru! Pasti itu!

Dengan kasat mata, semua bisa merasakannya. Runyam memang. Ini karena semua sendi kebijakan negara bertumpu pada bersenyawanya kepentingan pengusaha dan penguasa.
Dalam sistem seperti ini juga makin tumbuh subur praktek bisnis haram. Dari data lawas saja sudah cukup untuk mengetahuinya. Siap? Ini dia.

Minuman keras misalnya, perusahaan penghasil minuman keras PT Multi Bintang Indonesia Tbk (MLBI) mencatat omset pemasaran hingga Rp 1,7 triliun sepanjang 2011. Total konsumsi bir di negeri mayoritas Muslim ini telah mencapai 2 juta hektoliter per tahunnya pada 2011! (www.infobanknews.com/2012). Ngeri!

Di subsektor narkoba, tercatat nilai transaksi ekstasi mencapai Rp 9 triliun per tahun. Sabu nilainya terus meningkat, dan diprediksi mencapai Rp 25 triliun per tahun. Sementara, omset heroin di tanah air melambung hingga Rp 163 triliun tiap tahun. (www.tribunnews.com/nasional/2013; www.balipost.co.id/2005). Sadis!

Sama parahnya di dunia bisnis esek-esek. Seperti yg diwartakan dalam www.tempo.co/read/news/2008, Asosiasi Warung Internet Indonesia (Awari) mengungkapkan jumlah uang sedunia yg beredar untuk belanja pornografi cukup besar yakni mencapai US$3,075 juta per detik. Pendapatan dari pornografi di seluruh dunia di tahun 2006 mencapai US$97,06 miliar. Parah!

Masih banyak lagi bisnis haram lainnya yg sama-sama mengerikannya bagi peri kehidupan kita.
Itu semua pemandangan yg kontras dengan sistem Islam yg kaffah. Dalam Islam, semua bisnis haram tak akan ada. Mengapa? Karena Islam sama sekali tidak membolehkan berdirinya bisnis haram atas nama apapun! Dalam Islam ada kendali halal haram, sementara dalam kapitalisme sekulerisme kendalinya machiavelistik alias tujuan menghalalkan cara. Jauh beda, bagai bumi dengan langit!

Sebentar, masih ada lagi data ngeri yg lain. Berdasarkan data yg ada, kekayaan 400 Multinational Company (MNC) ternyata lebih besar dibanding pendapatan 143 negara di dunia. Beuh !

Di lain pihak, jika dianalisis secara mendalam, ternyata kapitalisme menemukan ruang baru dalam melakukan penghisapan sumberdaya dunia, yakni penggunaan institusi negara atau pemerintah sebagai payung pelindung arus modal dan barang internasional serta menguatnya peran lembaga keuangan global seperti IMF, World Bank, WTO, dan isnstitusi sejenis melalui berbagai kebijakannya yg sukses menjerat negara-negara berkembang ke dalam pelukan utang dan pinjaman luar negeri. Nah di sinilah ngeri, sadis, dan parah berkumpul jadi satu melahirkan derita tak bertepi !

Truly Muslimpreneur,

Abah ngelus dada lama sekali. Istighfar. Mohon ampun kepada Allah Swt. Wahai diri dan kita semua, sudah saatnya, kita semua melek, betapa sebagus-bagusnya sistem hidup buatan manusia pasti jelek di mata Allah! Tak layak diterapkan. Kapitalisme sekulerisme telah sempurna kejahilannya. Setidaknya sejak 1940-an, telah menjadi peradaban dominan di dunia hingga hari ini. Selama itu jugalah, yg ada hanya fasad, kerusakan di semua lini kehidupan. Jika pun ada yg bagus, itu hanya fisik dan semu. Namun itu semua rapuh karena membawa dampak kerusakan hidup dengan nama residu pembangunan menurut Rostow salah satu arsiteknya. Residu sebagai kriminal, kemiskinan, pola dan gaya hidup salah, depresi dan akhirnya gila. Residu by system. Dalam kamus pembangunan, residu ini dikonfirmasi sebagai PMKS atau Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial. Ya Allah…

Atas semua itu jelas sudah, satu-satunya posisi yg layak bagi Pengusaha Muslim hanyalah menjadi pengusaha pejuang bagi berlangsungnya Islam yg kaffah bukan menjadi bagian kelanggengan negara korporasi yg bertentangan dengan syariat, rusak dan dzalim.

Jadi, Pengusaha Muslim… Yuk berbenah, yuk serius. Umat menanti kita. Bisnis penuh berkah, Ngaji penuh energi dan Dakwah penuh manfaat bagi umat. Bismillah!

Truly Muslimpreneur,

Laju perubahan itu benar-benar tak bisa ditahan lagi. Redup malam itu kan berganti dengan terangnya siang. Kita hanya perlu menjalaninya. Bersegera bertobat dan makin mendekat taat kepada Allah Swt agar kita tak menjadi durjana kapitalisme pemantik bencana dan musibah. Tapi menjadi kesatria Islam pembawa rahmat dan berkah.

Tetaplah dalam koridor Bisnis, Ngaji dan Dakwah!

Ya Allah tempat bergantungnya harapan dan doa dari semua hambaNya, jadikan kami hambaMu yg taat kepadaMu.

Ya Allah, jadikan kami, khususnya pengusaha muslim, orang-orang yg beramal ikhlas untuk menegakkan kembali syariatMu yg kaffah. Kokohkan kami di jalan dakwah yg mulia ini. Kembalikanlah kaum Muslimin pada kemuliaannya. Kami rindu agar hidup kami kembali dipenuhi keberkahan yg Engkau turunkan dari langit dan bumi…

Allahumma sholli ala Muhammad..
Aamiin Allahumma aamiin..

Barakallahu fikum…
@bah Salim

Related posts
Editorial

TIDAK CUKUP KECEWA PADA PEJABAT DAN POLITISI KAYA RAYA DI TENGAH PANDEMI, TAPI KECEWALAH JUGA KEPADA DEMOKRASI

Editorial Assalim.id | Edisi 75Oleh Pujo Nugroho Assalim.id – Setelah Komisi Pemberantasan…
Read more
Bengkel Pengusaha

KETIKA PENGUSAHA MENJADI PENGUASA, BELAJAR DARI UMAR BIN KHATTAB

Karena tak juga ada tanda-tanda serius untuk bertobat di negeri +62 ini, akhirnya muncul special…
Read more
Editorial

TIDAK CUKUP MENGGANTI DENGAN ISTILAH MALING UNTUK MEMBASMI KORUPTOR TAPI JUGA HARUS MENGGANTI SISTEM!

Editorial Assalim.id | Edisi 74Oleh Pujo Nugroho Assalim.id – Tulisan ini mengapresiasi…
Read more