Bengkel Pengusaha

AWAS ISTIDRAJ TRAP !

Waspadalah… Waspadalah… Jika Hidup Tetap Tak Mau Taat Syariat, Tetap Menolak Taat, Tetap Membenci Syariat, Tetap Bergelimang Maksiat NAMUN Berlimpah Nikmat, Itu Tanda ISTIDRAJ, Pembiaran Dari Allah Swt Agar Ybs Semakin Larut Dalam Dosa !

Begitu judul sebuah kiriman muhasabah yg setiap hari abah terima. Lengkap dengan dalilnya di situ. Dari hadits, atsar sahabat hingga pernyataan ulama..

”Apabila kamu menyaksikan pemberian Allah dari materi dunia atas perbuatan dosa menurut kehendakNya, maka sesungguhnya itu adalah uluran waktu dan penangguhan tempo belaka. Kemudian Rasulullah Saw membaca firman Allah Swt dalam surat Al An’am ayat 44 : “Maka tatkala mereka melupakan peringatan yg telah diberikan kepada mereka, Kami pun membukakan semua pintu-pintu kesenangan untuk mereka, sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yg telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka dengan sekonyong-konyong, maka ketika itu, mereka terdiam berputus asa.”
HR. Ahmad dan Ath-Thabrani

‘Hai anak Adam, ingat dan waspadalah bila kau lihat Tuhanmu terus menerus melimpahkan nikmat atas dirimu sementara engkau terus-menerus melakukan maksiat kepada-Nya.’
Ali bin Abi Tholib ra

“Hendaklah engkau takut jika selalu mendapat karunia Allah, sementara engkau tetap dalam perbuatan maksiat kepada-Nya, jangan sampai karunia itu semata-mata istidraj oleh Allah.”
Ibnu Athaillah

Yup, istidraj trap. Jebakan istidraj. Pembiaran agar yg bersangkutan semakin larut dalam dosa. Serem sekali. Seolah-olah pelakunya mendapatkan nikmat yg banyak berlipat padahal pada saat yg sama ia melakukan amal yg salah alias maksiat. Maksiat di rumah, di luar rumah. Maksiat dalam kerja, bisnis dan lain-lain. Hemmm.

Dari puluhan forum komunitas yg acap dikunjungi abah, hampir semua menyebut, maksiat yg paling sering mereka lakukan dan masih berlangsung sampai dengan kini adalah utang riba! Kenapa setelah paham riba itu haram dan bahkan dosa besar, masih terus terlibat riba? Mereka seperti tak kuasa melepaskan diri dari riba. Lepas aset jika perlu! Tapi tidak juga mau mereka lakukan karena mereka sudah punya hitungan sendiri. Lantas bagaimana dengan dosa riba yg terus menemani? Nantilah, toh masih ada waktu buat bertobat di akhir nanti! Justru dengan utang riba ini, mereka merasa bisnis malah semakin berkibar, pundi-pundi kekayaan makin berlimpah! Duh! Kalau sudah begini, mereka terkena istidraj trap!

Seorang pengusaha kelas kakap ibukota yg sempat jumpa abah di sebuah lounge bandara beberapa waktu lalu, bahkan sempat meminta pengertian abah. Katanya, saya ini muslim tulen. Jangan ragukan kemusliman saya. Saya juga yakin tentang dosa riba. Itu saya sependapat dengan abah. Tapi tolong pahami saya abah, izinkan saya untuk mengambil pinjaman riba itu. Kenapa? Karena saya muslim. Muslim itu amanah. Jadi saya terpaksa ambil dana riba itu karena saya pasti amanah! Duh kuadrat! Kok bisa beliau bersikap begitu. Nama besar yg satu ini ternyata sudah terlalu jauh terperosok dalam jebakan riba. Tak lama, dua bulan kemudian, abah mendapat kabar usaha beliau bangkrut! Allah kariim.

Dari riba merembet ke yg lain. Karena nyaman dengan pelanggaran riba, akhirnya berani juga melanggar aturan yg lain. Akhirnya tak mau lagi taat syariat. Akhirnya menolak taat, bahkan membenci syariat! Serem sekali. Lebih gawat lagi kalau mereka menjelma menjadi azazil-azazil baru. Naudzubillahi mindzalik…

Itu baru bicara pelanggaran hukum yg sifatnya taklifi (hukum untuk mengatur perbuatan manusia, dengan hukum berupa tuntutan (thalab) dan pemberian pilihan (takhyir) : fardlu-sunnah-mubah-makruh-haram). Belum lagi bicara tentang pelanggaran hukum yg sifatnya wadh’i (hukum untuk mengatur hukum taklifi itu, seperti sebab, syarat, mani’, sampai sah, batal dan fasad)… Bayangkanlah, bagaimana kalau ternyata akad jual beli kita bermasalah, akad perusahaan kita bermasalah, akad-akad lainnya bermasalah.. Duh, astaghfirullahal azhim, jangan-jangan banyak yg kita langgar selama ini, tanpa kita tahu… Ya Allah…

Jadi, benar sekali tagline khas bahwa bisnis itu bukan sekedar untung-rugi, tapi surga neraka. Ada akhirat tempat segala pertangungjawaban. So, Pengusaha Muslim, hayuk jangan tunda lagi Bisnis, Ngaji dan Dakwah agar terhindar dari istidraj trap! Yuk serius. Bismillah!

Truly Muslimpreneur,

Ramadhan bulan penuh berkah dan ampunan, semoga menjadikan kita hamba Allah yg selalu berpikir, bersikap dan beramal kehidupan – termasuk dalam amal bisnis kita – dengan dipenuhi ‘berkat’ dan keberkahan. Bisnis yg akan memuliakan kita di dunia dan akhirat. Insya Allah.

Ingatlah selalu : Bisnis, Ngaji, Dakwah ! Berkah…Berkah…Berkah !

Ya Allah Yg Maha Rahmaan dan Rahiim, ampuni kami, jauhkan kami dari kemaksiatan kepadaMu. Jauhkan kami dari kesombongan hingga menolak syariatMu. Bimbing kami sebagai hambaMu yg tunduk, taat dan patuh kepadaMu. Kokohkan kami di jalan dakwah yg mulia ini. Kembalikanlah kaum Muslimin pada kemuliaannya.

Allahumma sholli ala Muhammad..
Aamiin Allahumma aamiin..

@bah Salim

Related posts
Ulasan Utama

“PAJAK ATAU PALAK” SIAPA UNTUNG SIAPA BUNTUNG ?

Agan Salim Sebagai negara yang mengadopsi sistem kapitalisme, maka “platform” pajak sebagai…
Read more
Editorial

TIDAK CUKUP KECEWA PADA PEJABAT DAN POLITISI KAYA RAYA DI TENGAH PANDEMI, TAPI KECEWALAH JUGA KEPADA DEMOKRASI

Editorial Assalim.id | Edisi 75Oleh Pujo Nugroho Assalim.id – Setelah Komisi Pemberantasan…
Read more
Bengkel Pengusaha

KETIKA PENGUSAHA MENJADI PENGUASA, BELAJAR DARI UMAR BIN KHATTAB

Karena tak juga ada tanda-tanda serius untuk bertobat di negeri +62 ini, akhirnya muncul special…
Read more