Assalim TV

Akar Masalah Ambruknya Migas Dunia

Aliansi Pengusaha Muslim – Menurunnya permintaan minyak yang ditimbulkan oleh pandemi corona, yang diawali dengan perang harga telah menyebabkan industri migas merugi, bahkan ambruk. Mereka menghadapi tantangan paling berat dalam 100 tahun terakhir.

Data menunjukan harga minyak saat ini terendah selama hampir dua dekade, bahkan 20 april 2020 harganya merosot hingga minus 37,63 US$ per barel.

Kondisi ini mengakibatkan perusahaan minyak asal Amerika Serikat, Diamond Offshore dan whiting petroleum mengalami kerugian puluhan triliun hingga akhirnya bangkrut. Bahkan saham-saham migas dalam negeripun ikut berjatuhan cukup dalam karenanya.

Peneliti INDEF, Bhima Yudhistira menyebutkan anjloknya harga minyak dunia berpotensi menyebabkan resesi ekonomi, karena turunnya harga minyak membuat harga komoditas seperti sawit dan batu bara ikut turun.

Realitas diatas semakin menambah panjang deret ambruknya pilar-pilar ekonomi kapitalisme dunia yang diadopsi saat ini. Dan ini semua semua bermula dari praktek ribawi. Karena dalam sistem ekonomi kapitalis, riba atau suku bunga (interst) seperti nyawa yang tidak dapat dilepaskan begitu saja dari tubuhnya.

Perlu kita cermati, bahwa ambruknya harga minyak dunia yang punya dampak domino resesi saat ini, bukan hanya sekedar teknis ekonomi supply dan demand semata. Tapi ada akar masalahnya, yaitu  aspek kepemilikan dan praktek ribawi yang diadopsi sistem kapitalisme saat ini

Analisa ini sejalan dengan ungkapan pakar ekonomi Islam, Dwi Condro Triono yang menilai bahwa penyebab utama krisis ekonomi yang terjadi karena diterapkannya sistem ekonomi ribawi dengan bank dan pasar modal sebagai jantungnya.

Karenanya,  kalau dunia ini benar-benar menginginkan tata kelola ekonominya makmur, sejahtera dan berkeadilan,  maka tidak ada jalan lain selain sumber permasalahan utamanya, yaitu sistem  ekonomi kapitalisme ribawi harus segera disudahi.

Dan setelahnya digganti dengan sistem ekonomi anti krisis dan resesi yaitu sistem ekonomi Islam. Karena sejatinya pondasi sistem ekonomi Islam, adalah aturan Allah swt pemilik semua alam raya ini. Sehingga bila kita ingin mengelola alam ini, mesti mengikuti bagaimana aturan yang telah ditentukan oleh sang pemiliknya yang dalam firmannya mengatakan ”yang kepunyaan-nya lah kerajaan langit dan bumi”  (T.Q.S. Al Furqon[25] : 2)